Gus Dur dengan santai menerima tamu dengan bersandal dan mengenakan sarung. Tetamu istana juga bebas keluar masuk dengan pakaian informal seadanya. Para kiai yang sering menjadi tamu Gus Dur bisa datang ke istana dengan bersarung dan bersandal seperti sang tuan rumah.
Hal ini dilakukan oleh Gus Dur sebagai bentuk perlawanan kultural dengan melakukan dekonstruksi terhadap kekuasaan Soeharto yang elitis-transenden. Gus Dur menadikan kekuasaan merakyat dan profane. Puncak dari dekonstruksi kekuasaan yang dilakukan Gus Dur ditunjukkan ketika Gus Dur keluar dari Istana setelah pemakzulan oleh DPR. Ketika itu Gus Dur tampil memberi pernyataan pers dengan mengenakan piyama dan celana pendek. Gus Dur kemudian meninggalkan istana dengan pakaian itu.
BACA JUGA: Satanic Verses
Meskipun tidak didasari oleh filosofi yang sama, Jokowi juga melakukan dekonstruksi dan desakralisasi kekuasaan Istana. Sepuluh tahun masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) suasana Istana kembali seperti era Soeharto. SBY ialah seorang demokrat, tetapi ia mempunyai disiplin militer yang tinggi dan sangat hati-hati menjaga citra sebagai pemimpin. SBY berbicara dan bertingkah laku secara ‘’orchestrated’’, dengan sangat rapi dan teliti. Segala atribut kekuasaan, termasuk Istana, kembali menjadi sakral.
Sepeninggalan SBY, Jokowi menampilkan wajah kekuasaan yang lebih merakyat, setidaknya pada tampilan fisiknya. Jokowi secara ‘’orchestrated’’ menampilkan citra sebagai bagian dari wong cilik yang sederhana.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi