Sabtu, 18 April 2026, pukul : 07:28 WIB
Surabaya
--°C

Farel Prayoga

Farel bersiap menyanyikan ‘’Joko Tingkir’’. Tapi tim lapangan yang mengelilingi Farel terlihat saling berbisik-bisik, dan kemudian lagu itu batal dinyanyikan. Sebagai gantinya Farel mengulangi lagi lagu ‘’Ojo Dibandingke’’.

Kalau saja Farel jadi menyanyikan Joko Tingkir suasana akan makin meriah dan reaksi netizen akan makin heboh. Rupanya tim Istana khawatir lagu itu akan memicu kontroversi dan reaksi pro kontra kalau dinyanyikan di depan Jokowi. Musababnya, beberapa kalangan mengecam lagu Joko Tingkir karena dianggap melecehkan ulama.

Salah satu protes datang dari Gus Muwafiq yang menyayangkan syair Joko Tingkir yang diasosiasikan dengan dawet. Kata Gus Muwafiq, Joko Tingkir ini bukanlah nama sembarangan. Joko Tingkir ialah nama dari Sultan Hadiwijaya, Sultan Pajang yang dikenal sebagai murid dari Wali Songo yakni Sunan Kalijaga. Sosok Sultan Hadiwijaya ialah sosok ulama besar dan raja besar.

BACA JUGA: Klepto

Penolakan lagu ‘’Joko Tingkir’’ juga muncul dari ulama MUI Jatim, tokoh masyarakat, warga Lamongan dan juga anggota dewan. Penggunaan Joko Tingkir di lagu itu tidak pantas dan dianggap merendahkan sosok ulama dan raja yang terhormat.

Karena munculnya keberatan itu pencipta lagu Joko Tingkir meminta maaf. Belum ada kabar mengenai permintaan pencekalan atau penarikan lagu itu dari pasaran. Di berbagai kanal media sosial lagu berirama dangdut komplo itu masih tetap sangat populer dan digemari berbagai kalangan.

Jokowi mungkin berpikir sederhana saja, lagu Joko Tingkir sedang populer dan karenanya ia ingin mendengarkan langsung dari Farel Prayoga sebagai penyanyi aslinya. Tapi, ada unsur yang dianggap sakral pada lagu itu. Ada sakralisasi pada nama Joko Tingkir sehingga dianggap tidak layak untuk dinyanyikan dalam lagu dangdut koplo.

Pembatalan lagu Joko Tingkir terasa paradoksal, karena penampilan Farel–bersama para pejabat yang menjadi background dancer di Istana–adalah semacam ‘’desakralisasi Istana’’. Jokowi sering mengatakan bahwa Istana bukan pusat kekuasaan yang sakral. Jokowi juga selalu mengindentifikasikan dirinya sebagai bagian dari wong cilik atau kawula alit.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.