KABUL-KEMPALAN: Taliban mengambil alih Afghanistan tepat pada hari ini, 15 Agustus dengan misi mulia yaitu membawa perdamaian ke negaranya yang selama beberapa dekade berada dalam konflik dan okupasi AS.
Per hari ini, Taliban merayakan satu tahun kepemimpinannya di Afghanistan—namun misi mulia Taliban tersebut tidak dengan mudah tercapai karena banyaknya permasalahan, mulai dari ISIL, tekanan dunia internasional hingga lainnya.
Berita ini kemudian berisikan wawancara ekslusif, yang dilakukan oleh Aljazeera dengan narasumbernya Pemimpin Taliban yaitu Anas Haqqani.
Anas Haqqani menjelaskan secara panjang mengenai perjalanan Taliban beserta pencapaian dan kegagalan yang dialami sejak berkuasa selama setahun belakangan.
Aljazeera: Pemerintahan anda telah berjalan selama satu tahun, apa yang telah kalian capai dan kalian gagal?
Anas Haqqani: Selama setahun belakangan, kami telah mencapai banyak sekali—perkembangan, terutama di kebebesan karena kita menjadi bebas dari kependudukan negara asing yang hanya membawa kesengsaraan. Hal tersebut kemudian menjadi sumber kebahagiaan kami.
Kemudian, kalian juga bisa lihat secara jelas transformasi besar-besaran yang ada di Afghanistan—terutama dalam bidang keamanan. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, pemerintah sendiri yang memiliki hak mengatur keamanannya.
Kemudian pemerintahan ini, tanpa bantuan asing secara terus menerus, sudah mulai bisa membayar Pegawai Negeri Sipil di hampir semua institusi negara.
Aljazeera: Mengapa Taliban mengambil alih kekuasaan secara paksa—dibandingkan dengan cara negosiasi? Beberapa analis menilai hal tersebut melanggar Perjanjian Doha pada tahun 2020.
Anas Haqqani: Secara khusus, kami menghormati adanya Perjanjian Doha pada tahun 2020—namun tidak ada satu pun kasus pelanggaran dari kami. Buktinya adalah tidak ada laporan dari sponsor perjanjian tersebut yaitu Qatar.
Di sisi lain, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh pihak AS dan mantan Presiden Afghanistan yaitu Ashraf Ghani.
Sebagai contohnya, ketika Joe Biden berkuasa, ia menambah jangka waktu untuk mempersiapkan diri hengkang dari Afghanistan—tanpa negosiasi dengan kami. Kemudian juga hingga saat ini, mereka masih belum menghapus daftar nama tahanan Afghanistan.
Pelanggaran dari mereka sangat banyak, namun di balik kesengsaraan dan frustasi kami, kami tidak sepenuhnya mengandalkan kekerasan.
Namun, dengan adanya kekosongan kekuasaan, kami kemudian mulai masuk ke dalam untuk ambil alih.
Aljazeera: Anda menjanjikan banyak hal. Perdamaian, HAM untuk warga Afghanistan, Pemerintahan yang inklusif hingga Hak Perempuan. Berapa banyak janji yang anda pegang?
Anas Haqqani: Kekuatan asing telah mengontrol negara kami selama 20 tahun lamanya—dengan semua sumber dayanya yang kemudian gagal membawa keamanan dan keteraturan di masyarakat kami.
Kami hanya baru berkuasa satu tahun—dan dunia internasional tidak seharusnya berekspektasi besar kepada kami untuk mencapai semua tujuan dan janji selama semalaman saja. Sangat mustahil. Terlebih lagi terkait pengakuan internasional dan bantuan asing. Namun dibalik itu semua, dengan Kuasa Tuhan, kami mencapai banyak kemajuan.
Sekarang, kalian bisa lihat banyak perempuan yang bisa bergabung sekolah dan universitas. Intinya, jangan harapkan apa yang sudah gagal tercapai selama 20 tahun terakhir.
Aljazeera: Lebih dari 2,6 Juta warga Afghanistan pada saat ini merupakan pengungsi, dan 3 Juta warga terlantar. Pada saat ini juga, negara anda mengalami krisis pangan terbesar kedua di dunia. Apakah anda senang dengan keadaan yang anda capai selama satu tahun? Bagaimana cara anda mengatasi krisis kemanusiaan?
Anas Haqqani: Seperti yang sudah dijelaskan, Afghanistan pada hari ini berbeda dengan yang 20 tahun lalu. Kami sudah melangkah ke arah yang benar. Anda bisa lihat, energi, sumber daya alam dan lainnya menggunakan tenaga dalam negeri dan perusahaan dalam negeri. Puji Tuhan, dengan adanya hal tersebut, kami bisa menghasilkan pemasukan dan membuat hampir semua Kementerian kami memiliki fungsi yang jelas.
Selain itu, kami menyadari bahwa sudah tugas kami untuk memberikan kehidupan yang nyaman bagi warga kami. Kami ada untuk melayani warga kami. Saya yakin bahwa kami bisa mengatur semuanya untuk mencapai semua tujuan warga kami. Namun per saat ini, kami menghadapi tantangan yaitu kurangnya pengakuan di dunia internasional.
Berikut merupakan wawancara ekslusif dari Aljazeera dengan pimpinan Taliban yaitu Anas Haqqani.
Menanggapi pertanyaan dan jawaban yang ada, Taliban pada saat ini sudah mengupayakan yang terbaik dengan caranya sendiri—namun masih memiliki banyak tuntutan dari dunia internasional. Apakah dalam beberapa tahun kedepan, Taliban sudah mulai mendapatkan pengakuan internasioal?
(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi