Serat ini dianggap melecehkan Islam dan menjadi contoh karya sastra yang membuat kebencian terhadap Islam, sama dengan karya-karya sastra Eropa pada abad Rennaissance. Darmogandul dan Gatholoco mencantumkan idiom-idiom seks yang kasar untuk menggambarkan ajaran-ajaran Islam. Kalimat Syahadat diinterpretasikan dengan lambang-lambang seksual yang cenderung jorok.
Di Eropa di abad ke-17 sudah muncul karya-karya yang mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad. Voltaire, pujangga Prancis, menciptakan naskah drama yang menampilkan sisi-sisi negative Nabi Muhammad. Votlaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagai haus darah, haus seks, suka kekerasan, menderita epilepsi, dan berbagai atribut negatif lain. Karya Voltaire ini dipentaskan di seluruh Eropa sampai ke Amerika. Karya ini banyak dicontek oleh Salman Rushdie dan The Satanic Verses.
Sampai sekarang kekerasan terhadap pelaku yang dianggap menghina Islam masih sering terjadi di Eropa. Majalah ‘’Charlie Hebdo’’ di Paris, Prancis, terkenal dengan kartun-kartunnya yang melecehkan dan menghina Nabi Muhammad. Beberapa awak redaksi majalah itu tewas karena serangan pembunuhan dengan senapan laras panjang.
BACA JUGA: ACAB
Pada 1970 sastrawan Indonesia H.B Jassin diadili karena menolak mengungkap identitas penulis Ki Pandji Kusmin yang menulis cerita pendek yang dianggap menghina Islam. Majalah Sastra yang sangat prestisius dan diasuh Jassin memublikasikan cerpen ‘Langit Makin Mendung’ pada edisi 1968.
Ki Pandji Kusmin yang menulis cerpen itu adalah nama samaran. Saat itu kontroversi pun meledak hebat. Umat Islam saat itu merasa tersinggung dengan cerpen tersebut yang dianggap menghina Islam. Cerpen ini bersifat pejoratif, mengolok-olok kesucian Allah, ajaran Islam, Nabi Muhammad beserta sahabatnya. H.B Jassin sebagai penanggung jawab Majalah Sastra dipaksa untuk mengungkap jati diri Ki Pandji Kusmin. Jassin menolak dan akhirnya divonis satu tahun penjara.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi