Senin, 22 Juni 2026, pukul : 08:32 WIB
Surabaya
--°C

Sang Anak

Dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah (utusan) di muka bumi. Kata beribadah mengandung dimensi vertikal (hablumminallah), sedangkan kata khalifah mengandung dimensi horizontal. Allah SWT membutuhkan utusan atau wakil untuk melakukan berbagai urusan yang berkaitan dengan pemeliharaan bumi dan isinya.

Manusia diciptakan untuk memberikan manfaat atau kontribusi bagi lingkungan atau orang lain. Manusia juga diciptakan dengan rancangan atau fitur yang berbeda-beda. Allah SWT pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu dengan menciptakan manusia dengan bentuk rupa yang berbeda-beda.

Sebagai anugerah, harta dan anak harus menjadi sebab seorang Muslim semakin dekat dengan Allah SWT. Sebagai ujian, jangan sampai harta dan anak menjauhkan Muslim dari Allah SWT. Karena cinta dan takut yang berlebihan kepada selain Allah SWT.

BACA JUGA  Tragedi Dialog UGM, Ketika Dua Bahasa Bangsa Tidak Lagi Saling Mengerti (Bag-1)

Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah titipan, amanah dari Allah SWT kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggan seseorang. Barang siapa yang mengutamakan keridhaan Allah SWT dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dari sisi Allah SWT.

Selain itu, Allah SWT telah mengingatkan kita manusia bahwa istri dan anak bisa menjadi musuh di hari pembalasan. Permusuhan diantara anggota keluarga bisa terjadi karena mereka melalaikannya dari amal saleh. Firman Allah SWT dalam surah At-Taghabun 14, “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta menggampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ini bukan tentang dongeng berseri, bukan tentang apa yang akan kita tinggalkan untuk anak-anak kita, melainkan apa yang akan kita tinggalkan dalam diri anak-anak kita. (*)

BACA JUGA  Tanpa Ideologi: Negara Jadi Banci

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.