Kata “tujuh jam ke depan”, karena Yosua memperkirakan perjalanan Magelang-Jakarta, naik mobil, sekitar durasi itu.
Pihak keluarga menuruti permintaan Yosua. Mendukung pekerjaan Yosua, agar fokus melaksanakan tugas. Tapi, pihak keluarga berjanji akan menelepon lagi sekitar tujuh jam kemudian.
Persis pukul 17.00 (tujuh jam kemudian) pihak keluarga menelepon Yosua lagi. Tidak bisa. Bukan telepon tidak diangkat Yosua, atau koneksi tidak tersambung. Tidak. Melainkan tidak bisa.
Komaruddin: “Tidak bisa, karena di-WhatsApp ternyata sudah terblokir. Dengan terblokirnya nomor-nomor mereka, baik nomor ayahnya, ibunya, termasuk kakak-adiknya, termasuk ke WhatsApp group keluarga, terblokir. Maka keluarga mulai gelisah. Karena, hal itu sangat aneh.”
BACA JUGA: Pelecehan Seks Ini Direkam CCTV
Dilanjut: “Kemudian pemblokiran berlanjut. Semua handphone keluarga, ayah-ibunya, handphone Yosua, kakak-adiknya, semua handphone tidak bisa dipakai. Mati, tidak bisa dipakai. Bersamaan. Bukan kehabisan batre, ya… Mati, selama kurang-lebih seminggu, barulah kemudian nyala lagi.”
Itu sebab, begitu jenazah Yosua diantarkan tim polisi dari Jakarta ke Jambi dengan pesawat kargo, begitu jenazah tiba di rumah duka, Selasa, 12 Juli 2022, pihak keluarga langsung bertanya ke polisi pengantar jenazah: HP Yosua mana?
“Dijawab polisi, hilang,” kata Samuel Hutabarat, ayah Yosua kepada wartawan.
Apalagi, kata Samuel Hutabarat, tim polisi pengantar jenazah, melarang pihak keluarga membuka peti jenazah. Membuat pihak keluarga semakin penasaran. Nekat peti dibuka. Jenazah diperiksa. Difoto, direkam video HP. Hasilnya, kondisi jenazah dikatakan Komaruddin begini:
Komaruddin: “Fakta di jenazah anak klien kami, bukan hanya luka tembak saja. Tetapi banyak luka sayatan, luka memar. Bahkan bahunya bergeser hingga giginya rusak. Rahangnya bergeser.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi