Sang bos sudah ke Mabes Polri: mengadukan perlakuan pada dua wartawannya itu. Polri menanggapinya dengan baik. Akan diselesaikan.
Walhasil upaya merahasiakan peristiwa besar ini sebenarnya berhasil. Awalnya. Tidak ada media yang bisa mengklaim ”kamilah yang pertama mengungkap”.
Saya ingat di zaman Orde Baru. Saat itu sulit sekali untuk bisa menjadi pertamax seperti itu. Wartawan sebenarnya selalu tahu secara dini peristiwa besar. Tapi takut menuliskannya. Tunggu keterangan resmi saja. Kadang ada. Kadang tidak.
BACA JUGA: Demo Gugat
Wartawan yang lebih dulu tahu biasanya hanya mampu menceritakannya kepada sesama wartawan, setelah mereka balik ke kantor. Maka kantin di kantor media itu asyik sekali. Wartawan yang pulang dari ”pos” masing-masing bercerita peristiwa apa saja yang ia dapat. Sebatas diceritakan. Tidak bisa ditulis.

Yang dimaksud ”pos” adalah tempat tugas si wartawan. Ada wartawan yang ”ngepos” di istana, di Mabes Polri, di Polda, di Polres, di pelabuhan, di kementerian keuangan dan seterusnya. Di situlah mereka ”berkantor”. Setiap hari. Mereka tahu apa pun yang ada di ”pos” masing-masing. Termasuk sisi gosip-gosipnya. Bahkan media seperti PosKota sampai punya wartawan yang ”ngepos” di Polsek-Polsek.
Karena itu media perlu punya wartawan banyak sekali. Mahal.
Media online tidak mau punya banyak wartawan. Penghasilan online tidak sebesar penghasilan koran di masa jaya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi