Mbah Mars
Saya pernah diajar Profesor statistik. Daya ingat terhadap rumus-rumus statistik luar biasa. Tanpa bantuan aplikasi seperti para profesor jaman sekarang. Mulai dari rumus Product Moment, T-test, Kontingensi, Regresi, Anova, Ancova hafal di luar kepala. Lancar juga ketika menuliskannya di papan tulis. Meski demikian, beliau mengakui sering sekali lupa. Suatu ketika, saat kuliah beliau bercerita: “Saya mengantar istri belanja di Gardena jalan Solo. Saya malas kalau mendampingi istri pilih-pilih barang. Saya duduk-duduk saja sambil minum dawet. Dawet saya bayar. Saya pulang. Tiduran di rumah. Tiba-tiba braakkk pintu depan rumah dibanting keras. Istri saya marah-marah. Menuding-nuding saya dan bertanya mengapa saya meninggalkannya. Blaik tenan”
omami clan
Jadi teringat pak pry yang sering mengkritik Abah tentang kekurang pekaan sisi jurnalismenya Setelah membaca tulisan Abah pagi ini, kok saya merasa agak sedikit setuju dengan kritik pak pry, sering kali isu domestik yang bergulir dan sarat muatan politik, lebih sering “terabaikan” oleh Abah seakan-akan menunggu berita agak basi baru mengangkatnya Contoh tentang minyak goreng, meskipun di tuliskan berjilid-jilid, tapi kesan terlambatnya sangat terlihat Kasus koboi-koboian yang janggal kali inipun saya rasa akan telat Abah angkat atau bahkan tidak sama sekali Mungkin Abah sudah bukan wartawan muda yang sarat idealisme atau sudah terlanjur nyaman, atau sedang di dalam gua seperti para ashabul kahfi itu hanya Abah yang tahu Maaf
yea aina
Alokasi APBN 2022 BRIN mendapatkan 10,5 T, pagu anggaran untuk operasional 5,05 T dialokasikan hanya untuk keperluan OPERASIONAL. Mungkin profesornyi bakal pusing alokasikan sisa anggaran non operasional (riset) semestinya hhmmm…..

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi