Sabtu, 25 April 2026, pukul : 22:56 WIB
Surabaya
--°C

Ki Hadjar Taman Siswa

Dari serangkaian diskusi itu, muncullah kesepakatan perlunya menumbuhkan semangat kemerdekaan dalam jiwa anak-anak muda melalui sistem pendidikan yang benar-benar “nasional” secara kebudayaan dan pendidikan.

Oleh: Prof. Yudi Latif

KEMPALAN: Saudaraku, sungguh berbahagia saya bisa diundang berbagi pikiran tentang politik pendidikan dalam puncak Hari Bakti Perguruan Taman Siswa tahun 2026.

Kaitan antara politik (perjuangan) kemerdekaan dan pendidikan belajar merdeka merupakan dasar ontologis Perguruan ini.

Sebelum Soewardi mendirikan Taman Siswa, pada 1921 ia bergabung terlebih dahulu dengan satu kelompok diskusi para politisi bangsawan dan rohaniawan: Paguyuban Selasa Kliwon.

Paguyuban yang dibentuk atas saran dua pangeran, Ki Ageng Suryomataram dan R.M. Sutatmo Suryokusumo, ini mengajak para pemimpin politik dan spiritual yang “berjiwa revolusioner” untuk membahas reorientasi cita-cita politik sesuai dengan kepribadian bangsa.

Sedini tahun 1919, paguyuban ini telah mendiskusikan demokrasi seperti apa yang pantas dijalankan. Mewakili pandangan paguyuban ini, Sutatmo menolak gagasan demokrasi Barat yang menekankan suara terbanyak.

Menurutnya, dalam demokrasi Barat suara mayoritas yang menentukan apa yang benar, bukan ketentuan “kebaikan” dan “keadilan”. Ia menegaskan pendiriannya dalam majalah Weder-Opbuow:

“Keindahan yang membatasi kekuasaan/Kekuasaan yang memuja cinta kasih/Kebijaksanaan yang membawa keadilan.”

Sutatmo juga menekankan pentingnya pelaksanaan demokrasi yang bersifat kekeluargaan di bawah kepemimpinan arif-bijaksana: bahwa “orang-orang yang bijak hendaknya menjadi pemimpin negara dan harus dipilih oleh orang-orang bijak pula”.

Dan, pemimpin bijaksana ini hendaknya bertanggung jawab kepada orang dalam kerangka garis lingkaran yang konsentris: manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial punya kewajiban kepada individu lain, negara dan kemanusiaan secara umum.

Pemahaman itu tertuang dalam semboyan paguyuban, yaitu dengan: “mangaju-aju salira, mangaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa” (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan manusia).

Dari serangkaian diskusi itu, muncullah kesepakatan perlunya menumbuhkan semangat kemerdekaan dalam jiwa anak-anak muda melalui sistem pendidikan yang benar-benar “nasional” secara kebudayaan dan pendidikan.

Lahirlah Perguruan Taman Siswa (1922) sebagai wahana belajar menjadi manusia merdeka.

*) Prof. Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.