alasroban
Bagi para politisi gelar itu penting. Lihatlah dalam pesta demokrasi 5 tahunan. Foto caleg tersebar di mana-mana lengkap dengan gelarnya. Meski gelarnya kadang tak nyambung dengan capabilitasnya. Wkwkwkwk,…
joko purnomo
Negeri ini mayoritas muslim tapi cara pendidikannya jauh dari cara muslim Andai kita terus mengikuti cara mereka(barat), kita akan terus dibelakang. Contohlah cara muslimin dahulu dalam menyiapkan sebuah generasi terbaik Belajar di masjid (tempat terbaik) karena semakin banyak santrinya maka dibuat sekat/partisi, Kalau sekarang ruang kelas. Itulah Al-Qarawiyyin letaknya di negara Maroko di kota Fes, dan sekarang diakui menjadi universitas pertama didunia. Universitas itu dibangun oleh 2 orang wanita kakak beradik yang namanyi Fatima Al-Fihri dan Mariam Al-Fihri. menariknya universitas itu dibiayai melalu “Dana Wakaf” Sampai hari ini universitas itu tetap berjalan, di bangun tahun 859 Masehi, itu artinya kampus itu sudah berumur 1163 tahun Begitulah dunia pendidikan dibiayai melaku dana wakaf (wakaf produktif), dan sekarang dicontoh oleh universitas-universitas terkemuka didunia. Seperti Harvard University memiliki dana wakaf (35,8 milyar USD), Stanford university (21,4 milyar USD), Massachusetts institute of technology(12,4 milyar USD), University of Cambridge ( 5,8 juta poundsterling) Dinegeri ini berapa kira-kira dana wakaf di kampus seperti UI, ITB, UGM…? Kita berprasangaka baik saja mudah-mudahan dengan kita berprasangka baik itu awal yang baik untuk dunia pendidikan di negeri ini.
Pryadi Satriana
Dalam “Mikra Gugat” pendidikan tinggi kita “disetarakan” dg di Botswana. Anda belum tahu: The University of Botswana adalah perguruan tinggi pertama di Botswana, berdiri tahun 1982! Lha kok Dahlan Iskan ‘ngintil’ Mikra yg “menyetarakan” kualitas pendidikan tinggi kita dg Botswana. Saat baru ada perguruan tinggi di Botswana, Indonesia sudah menghasilkan lebih dari seribu doktor. Dari sekadar melihat pemeringkatan perguruan tinggi aja Mikra mengambil kesimpulan sembrono seperti itu, sama aja seperti Dahlan yg ‘gumun’ dg Scopus index Ade Armando yg “cuma segitu”. Ojo kagetan, ojo gumunan. Rupanya Prof. Mikra & Prof. Dahlan harus lebih banyak membaca untuk memperluas wawasan mereka. Selamat membaca. Salam. Rahayu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi