Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Mikra Gugat
mzarifin umarzain
Karena Mikra Gugat nyinggung ITB, saya jadi nostalgia dg ITB. Karena saya pernah seachad kuliah di ITB. Ketemu putera2 terbaik se Indonesia. ada yg bilang dia bintang pelajar Jatim, dari Malang: ada yg bilang diterima di kedokteran UI, ibu nya nyuruh milih kedokteran UI, tapi dia milih sipil itb. saat kuliah, ada teman dari Bali, yg tanpa disuruh, selalu nyiapkan keperluan kelas, kapur, membersihkan papan tulis. sebelum nya diplonco, saya & teman keturunan cina dari Palembang, pernah disuruh oleh senior, ngitung dg batang korek api, lantai sekitar 5 m, dari arah berlawanan, harus sama, kebetulan hasil nya sama. sempat ikuti grup paduan suara, grup pencak Setia Hati. semoga ITB selalu pelopori kemajuan teknologi Indonesia, sukses, berbarokah.
Mbah Mars
Prof Mikra sungkan mau ngomong, bahwa religiusitas akedemisi Indonesia berbanding terbalik dengan karya-karya ilmiahnya. Nilai-nilai dominan yg dikembangkan dan akhirnya besar pengaruhnya adalah “qanaah (nrima ing pandum)”. Itulah mengapa para profesor mandek karya-karyanya. Terjebak pada zona aman dan nyaman. Ditambah lagi doktrin semakin tua hendaknya makin dekat dengan Sang Pencipta. Rasah nggragas donya. Sedela meneh mati. Mungkin begitu.
fajar rokhman
Apa ada faktor agama? Negara Saudi yang terkenal dengan wahabismenya bisa diatas kita. Lha kita yang mengaku Aswaja bisa dibawah. Kayaknya faktor agama bukan masalah, Abah cm mancing2 aja? Dan Sy jadi kepancing jg jadinya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi