Apa artinya? Bahwa tidak semua lembaga survey bisa berlaku independen, karena lembaga survey kita lebih banyak bekerja untuk melayani pesanan pemilik kerja. Sebagaimana yang pernah terjadi pada pilgub Jakarta 2017 menempatkan pasangan Ahok – Jarot selalu unggul dibanding pasangan lainnya, terutama Anies – Sandi. Namun kenyataannya ternyata Anies – Sandi yang unggul dibanding pasangan Ahok – Jarot.
Pilgub Jakarta mengajari kita bagaimana memaknai hasil publikasi lembaga survey. Khusus apa yang dilakukan oleh Burhanuddin Muhtadi, kita bisa melihat pandangannya ketika beliau bicara tentang post truth dengan sebutan era kebohongan melalui rekam jejak di youtube.
BACA JUGA: Stay Cool Bersama Anies
Dalam sebuah rekaman video yang sudah viral beberapa tahun yang lalu tentang bagaimana BM meyakinkan massa dengan kebohongan berulang ulang dengan istilah post truth. Dengan semangat yang berapi api BM meyakini bahwa kebohongan kalau ditekankan berkali kali apalagi didukung oleh “data – data” yang dibuat, maka ini akan menjadi kebenaran baru yang diyakini masyarakat.
Sehingga memaknai apa yang disampaikan oleh BM dalam rilis lembaga surveynya harus dianalisis melalui pisau post truth.
Ada banyak catatan yang perlu dicermati juga ketika BM menempatkan prosentase pasangan, pasangan Anies dengan siapapun selalu ditempatkan pada posisi kalah, Ganjar dipasangkan dengan siapapun akan selalu menang.
Pertama, Survey itu memang benar dilakukan, tapi apakah pengambilan sampel nya juga sudah benar mewakili populasi yang ada. Hasil survey tentu tak bisa dibantah karena itu fakta. Namun yang harus diingat bahwa fakta itu bisa dibentuk untuk menunjang apa yang menjadi keinginan kita.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi