Senin, 22 Juni 2026, pukul : 11:00 WIB
Surabaya
--°C

Ekonomi KH Ahmad Dahlan VS Ekonomi Mainstream

KEMPALAN: Apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan ada sisi tak terfikirkan oleh beliau saat itu. Beliau sangat concern pada terjadinya praktek pelaksanaan agama Islam yang tidak murni di masyarakat. Namun karena Islam adalah rahmatan lil alamin maka apa pun sesuatu yang tak terfikirkan tersebut tetaplah merupakan rahmat bagi semesta. Karena suatu niat yang baik, dilakukan dengan cara yang baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik, meskipun itu tidak terfikirkan apa yang menjadi akibatnya. Inilah berkah Islam dari apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan.

Bisa jadi tidak terpikirkan oleh KH Ahmad Dahlan tentang konsep ekonomi atau kesejahteraan masyarkat dalam konteks ilmu ekonomi modern karena memang milieu pemikirannya belum terdiskursus secara kuat tentang itu, namun apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan memiliki implikasi peningkatan kesejahteraan (wellbeing) ekonomi bagi umat manusia. Bahwa perhatian pertama KH Ahmad Dahlan pada masa awal perjuangannya adalah kemiskinan yang nyata di hadapannya.

Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Presiden Suharto tentang program Sekolah Instruksi Presiden (Inpres) tahun 1973-1978 dalam penelitian yang dilakukan oleh peraih Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2019 Esther Duflo dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ternyata, program SD Inpres tersebut bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia secara ekonomi, yakni peningkatan upah masyarakat. Apa yang dilakukan presiden Suharto kala itu tidak diduga bisa demikian ampuh, karena focus SD Inpres itu pada peningkatan sumber daya manusia yang terdidik,.

Tentunya kini diketahui secara jamak bahwa apa yang dilakukan KH Ahmad Dahaln ternyata memiliki dampak ekonomi bahkan lebih dari apa yang dilakukan oleh Preisden RI kedua tersebut.Dari gambaran yang disampaikan oleh Duflo, dalam konteks ekonomi, bahwa ekonomi masyarakat dapat meningkat dengan pendidikan.

Kyai Dahlan dan Muhammadiyah malah melahirkan banyak lembaga pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tingi. Juga banyak Lembaga kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Termasuk Lembaga ekonomi seperti koperasi atau batul maal wa tamwil., Lembaga amil zakt (LAZISMU), dsb. Secara keseluruhan kemudian membawa efek peningkatan kesejahteraan yang luar biasa.

Kita bisa menafsirkan kembali langkah yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan dalam konteks ekonomi, Ekonomi yang dikembangkan oleh KH Ahmad Dahlan dapat dikaji melalui berbagai jejak langkah yang telah tertulis dalam berbagai tulisan tentang beliau yang mengungkap sepak terjangnya.

Demikian juga dalam berbagai gerak langkahnya tidak terverbalkan kata ekonomi. KH Ahmad Dahlan hanya mengikuti dan melaksanakan kebenaran yang ada dalam Al Quran dan Al Ahadits yang kemudian didialektikakan dengan realitas empiris kondisi masyarakat pada masanya. KH Ahmad Dahlan menemui fakta bahwa agama Islam pada masa hidupnya mengalami kerusakan yang sangat parah dan disebutnya sebaga urusan yang kini sudah lama bengkok.” (Junus Salam, KH Ahmad Dahlan : amal dan pwerjuangannya: 138-139)

Untuk meluruskan kembali urusan yang telah lama bengkok itu, KH Ahmad Dahlan menggelorakan semangat berkorban harta kepada para pemimpin dan ulama selaku pemimpin umat dalam bidang politik dan agama (HM Sudja’, cerita tentang KH ahmad dahlan, hlm.222-229). KH Ahmad Dahlan kemudian memelopori melakukan gerakan pembaharuan, merevaluasi berbagai nilai yang telah rusak dalam berabgai bidang, mengorbankan harta demi kepentingan umat. Dalam perspektif ekonomi, KH Ahmad Dahlan mewujudkan nilai-nilai ekonomi yang awalnya yang mencerminkan nilai ekonomi Islam seperti keadilan, al ihsan, ta’awun, syirkah, amanah, qana’ah, sabar, dan pengorbanan.

Foto resmi KH Ahmad Dahlan dengan latar belakang lambang Muhammadiyah (foto: ist)

Sebuah High Economy

KH Ahmad Dahlam mengembankan ekonomi dengan berbagai filosofi Islam yang kemudian diejawantahkan menjadi gerakan economi, bisa jadi adalah bentuk high economy. Seperti gerakan dalam peningkatan level pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan menghilangkan kebatilan. Ini menajdi esensi dari Ekonomi Islam itu sendiri. Ekonomi Islam dibangun atas dasar pencerahan umat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia, pengembangan sumber daya manusia, perbaikan kualitas hidup, organisasai, perencanaan, kerjasama, dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gerakan ini pun menegasikan tahayul, bid’ah, churafat serta menegasikan materi secara berlebihan.

Mencermati perjuangan KH Ahmad Dahlan, maka secara garis besar bisa dikatakan bahwa langkah yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan secara ekonomi terhadap pemerintah Hindia Belanda tidak terlihat secara vulgar perlawanannya. Dari berbagai langkah dan perkataannya, tidak ditemukan sama sekali ucapan ataupun ulisan yang secara terbuka menentang pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut bukan berarti KH Ahmad Dahlan memihak Belanda, bahkan langkah beliau adalah perlawanan terhadap kolonialisme secara elegan.

BACA JUGA  Autopsi MoU AS – Iran: Mengaku Menang

Meski secara lisan beliau tidak mengecam Belanda namun gerakan yang dicanangkan oleh KH Ahmad Dahlan berorientasi pada kesejahteraan ekonomi-sosial dan peningkatan sumber daya pendidikan (melawan kebodohan), kesehatan (melawan penyakit), kesejahteraan (melawan kemiskian), dan kemaslahatan (melawan kebatilan).

Hal tersebut seirama dengan ajaran ekonomi Islam yang disampaikan oleh pioneer Ekonomi Islam di Indonesia asal Universtias Airlangga Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, dalam diktat kuliahnya Reformasi Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Masyarakat Madani (hlm. 11), bahwa Ekonomi Islam memiliki tugas untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, kesakitan, dan kebatilan. Inilah tugas utama ekonomi Islam. Ini juga menjadi perlawanan yang sangat nyata dari KH Ahmad Dahlan terhadap kolonialis dan kolonialisme. Ini jelas merupakan bukti usaha KH Ahmad Dahlan melawan penjajahan. Dalam konteks ini, kita bisa melihat bagaiamana KH Ahmad Dahlan melaksanakan prinsip nahi munkar dengan cara yang makruf. Dan ini merupakan high economy. KH Ahmad Dahlan berekonomi tapa menyebut kata ekonomi.

Secara umum, gerakan yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan merupakan bentuk purifikasi ajaran Islam dimana Islam hanya sebagai formalitas yang hampa tanpa ada bukti nyata dalam praktik yang dialami oleh umat pada masa itu. James L. Peacock dalam risetnya “Purifiying of the Faith: The Muhammadiyah Movement in Indonesia Islam” menyebut bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan pemurnian Islam terbesar di Indonesia (Peacock, 1982: 2). Peacock menyimpulkan bahwa gerakan purifikasi Muhammadiyah memang mendorong tumbuhnya amal usaha sosial dan pendidikan namun gerakan ini tidak bisa membangkitkan etos ekonomi sebagaimana para puritan di Eropa.

Kesimpulan tersebut tentu berseberangan dengan fakta yang ditemukan bahwa gerakan ekonomi yang dicanangkan oleh KH Ahmad Dahlan itu malah menumbuhkan etos ekonomi Islam di kalangan umat dengan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan gerakan sosial kemaslahatan. Karena KH Ahmad Dahlan menggelorakan ekonomi ta’awun yang menjadi esensi dari ekonomi Islam itu sendiri. Etos ekonomi yang dikembangkan memang tidak diutamakan etos ekonomi yang mengedepankan aspek material ekonomi seperti etos ekonomi Kapitialisme yang dilahirkan leh puritanisme Eropa, namun etos ekonomi ta’awun yang secara secara kaafah turut mewujudkan kesejahteraan ekonomi dunia dan akhirat.

Gerak langkah KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah adalah secara langsung maupun tidak langsung merupakan gerakan ekonomi Islam.

Ekonomi KH AHmad Dahlan VS Ekonomi Mainstream

Sejarah perkembangan ekonomi Islam tidak bisa dilepaskan dari perlawanan terahadap dua ideologi ekonomi yang telah mengakar secara internasional sejak berakhirnya abad pertengahan, pada abad ke-18. Idoelogi ekonomi tersebut adalah Kapitalisme dan Sosialisme/Komuniisme. Dan seluruh kekuatan umat Islam kemudian berfokus pada penghadangan dua kekuatan yang kemudian menguat seiring dengan penjajahan/gerakan kolonialisme mereka ke ke seluruh dunia.

Menggunakan ungkapan seorang professor sejarah sistem pemikiran, Michel Foucault, dalam Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason, bahwa “People know what they do; frequently they know why they do what they do; but what they don’t know is what what they do does.”

Bahwa sesuatu yang kita lakukan memang didasarkan atas pengetahuan dan sepengetahuan kita; dan kita tahu alasan melakukan hal tersebut. Namun apa yang tidak kita ketahui adalah ternyata apa yang telah kita hasilkan itu menjadi hidup dan dia bisa melakukan sesuatu atau berdampak pada sesuatu di luar nalar yang telah kita siapkan. Maksudnya secara bebas bahwa produk dari olah laku kita atas dasar pemikiran yang kita cetuskan itu ibarat seorang anak yang telah dewasa untuk melakukan sesuatu di luar apa yang telah kita fikirkan, sesuatu yang unthinkable oleh kita pada saat melakukannya.

Pemikiran Foucault tersebut dihasilkan dari apa yang telah terjadi dalam sejarah bahwa banyak tindakan manusia ternyata memiliki dampak lebih atau bahkan di luar apa yang diduga atau diharapkan. Misalnya dalam konteks sistem ekonomi: Pencetus Kapitalisme yakni Adam Smith. Kapitalisme dianggap sebagai sistem ekonomi yang bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pribadi tanpa campur tangan negara.

Namun apa yang tidak diketahui bahwa Kapitalisme itu, meminjam istilah Anthony Giddens, menjadi juggernaut atau gerobak besar yang berlari liar menabrak sana-sani memorakmorandakan apa saja yang dilaluinya. Kapitalisme malah menjadikan orang untuk cinta pada penumpukan modal/capital demi kepentingan pribadi tanpa mengindahkan hak-hak orang lain sehingga yang terjadi kemudian eksploitasi manusia atas manusia yang lain (exploitation du l’homme par l’homme).

BACA JUGA  Ijazah Jokowi: Tak Kunjung Selesai

Demikian juga dengan Komunisme yang kelahirannya oleh Karl Marx sebagai bentuk antitesis dari Kapitalisme. Bahwa kepentingan komunitas atau sosial bahkan negara, itu di atas kepentingan pribadi atau bahkan lebih ekstrim di negara-negara komunis seperti Korea Utara atau yang lainnya tidak mengindahkan sama sekali apa yang menjadi kepentingan atau hak individu. Sehingga ini menghilangkan apa yang menjadi hak asasi manusia.

Adam Smith (kiri) pendiri
Kapitalisme dan Karl Marx pendiri Komunisme. (foto: ist)

Dapat dikatakan antara Komunisme dan Kapitalisme adalah ibarat dua sisi dari sekeping dari mata uang yang tidak bisa tampil secara bersama-sama. Tarikan kepentingan individu dalam Kapitalisme berseberangan dengan tarikan kepentingan komunalitas dalam Komunisme. Dan keduanya sama-sama “menghancurkan” atau menutup sisi lain kemanusiaan. Dan ini telah terbukti dalam sejarah. Meski keduanya terus memperbaiki diri, namun karakter dasar keduanya tidak bisa dihilangkan.

Sedangkan Islam berada di tengah (wasath), bahwa prinsip manusia sebagai khalifah Allah fil ardh meniscayakan bahwa kepemilikan hakiki atas benda/harga yang ada di dunia adalah Allah SWT selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan, sebagai wakil Allah di Bumi maka manusia diberi kewenangan untuk mengelola. Dalam pengelolaan harta ini manusia diberi hak untuk “memiliki” barang/kekayaan tersebut secara sementara selama masa hidupnya.

Namun Allah mengingatkan bahwa dalam setiap kekayaan itu ada hak dari fakir dan miskin atau dalam delapan asnaf/golongan penerima sedekah/zakat (QS Adzdzaariyaat:51). Maka dengan demikian kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang yang kaya. Sehingga dalam Islam, manusia diberi hak untuk memiliki harta namun dalam sebagiannya terdapat bagian yang menjadi hak orang lain yang tidak bisa masuk pasar atau membeli menurut kekuatan pasar. Di sinilah letak keseimbangan itu. Di samping hak individu juga ada hak sosial dalam harta yang dimiliki manusia.

Beda Strategi Pengembangan Ekonomi

Jika merujuk pada sejarah ekonomi Islam di era modern, maka strategi pengembangan ekonomi KH Ahmad Dahlan berbeda dengan yang lain. Para ulama pada era modern mencermati pentingnya strategi institusi dan sistem perbankan untuk menggerakan roda perekonomian, maka berbagai upaya dilakukan ahli ekonomi Islam. Pertengahan tahun 1940-an Malaysia mencoba membuka bank non bunga, namun tidak sukses. Akhir tahun 1950-an Pakistan mencoba mendirikan lembaga perkreditan tanpa bunga di pedesaan.

Sedangkan uji coba yang relatif sukses dilakukan oleh Mesir dengan mendirikan Mit Ghamr Local Saving Bank tahun 1963 yang disambut baik oleh para petani dan masyarakat pedesaan. Namun, keberhasilan ini terhenti karena masalah politik, yakni intervensi pemerintah Mesir. Dengan demikian, operasional Mit Ghamr diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir (1967). Baru pada masa rezim Anwar Sadat (1971) sistem nirbunga dihidupkan kembali dengan dibukanya Nasser Social Bank. Keberhasilan di atas mengilhami para petinggi OKI hinga akhirnya berdirilah Islamic Development Bank (IDB) bulan Oktober 1975. Kini IDB memiliki lebih dari 43 kantor di negara anggotanya dengan Jedah menjadi kantor pusatnya.

Namun, jauh dari gerakan teroganisir dalam sejarah pengembangan ekonomi oleh para ulama ekonomi di atas, KH Ahmad Dahlan berbeda. Mengkaji pemikiran ekonomi KH Ahmad Dahlan melalui jejak langkahnya ibarat memikirkan sesuatu yang tak terfikirkan (unthinkable). Strategi ekonomi KH Ahmad Dahlan berdasarkan pada Pembentukan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang didasarkan atas tafsir konsep “ummat” di dalam Ali Aimron 104 menjadi panti asuhan, rumah sakit dan berbagai pelayanan Muhammadiyah lainnya merupakan implementasi dari surat al –Maun yang terus diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan (KRH Hadjid, 2008).

Telah diketahui secara jamak, bagaimana sebuah bangunan peradaban yang di dalamnya termasuk bidang ekonomi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik memerlukan instrumen utama penggeraknya yang mengoordinasi secara sistematis keseluruhan usaha menuju cita-cita yang ingin diwujudkan. Dan instrumen yang paling tepat adalah sebuah organisasi. Karena tidak mungkin seseorang melakukannya sendiri.

Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga Muhammadiyah mewujudkan cita-cita Islam yakni mewujudkan kondisi masyarakat dalam kerangka Islam yang sebenarnya sehingga Allah SWT ridha. Dan hingga kini, Muhammadiyah boleh jadi telah menjadi satu-satunya organisasi di dunia Islam tertua di dunia yang memiliki ciri tersebut. Dan berbicara Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan yang telah memberikan fondasinya yang secara tak terduga telah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi Umat, terutama masyarakat Indonesia.

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah Dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.