Selasa, 14 April 2026, pukul : 19:08 WIB
Surabaya
--°C

Kesaksian Guru Besar UGM dan UMY tentang Anies Baswedan: Pemimpin yang Menghargai Perbedaan dengan Adil

KEMPALAN: Anies Baswedan menjadi seorang pemimpin bukan proses instan. Sejak dini sudah terkandung nilai-niai jiwa kepemimpinan adil, menghargai perbedaan, namun tetap menganyomi semua kelompok.

“Dalam diri Anies ada keseimbangan dan kematangan dalam mengolah informasi menjadikan sikap Mas Anies sangat dekat dengan keadilan,” kata Heru Kurnianto Tjahjono, teman dekat Anies Baswedan semasa kuliah di UGM di Yogyakarta, Kamis, 7 Juli 2022.

Heru mencermati sikap menghargai perbedaan itu terlihat saat Anies menjabat sebagai Ketua Senat UGM. “Saat mahasiswa, saya masih ingat bagaimana Mas Anies sebagai ketua Senat menghargai ketua BEM terpilih yang berasal dari kelompok yang berbeda (non muslim) dengan sikap adil, respek, dan bermartabat,” terangnya.

Heru yang mengenal Anies Baswedan di Komisariat Himpunan Mahasiswa FE UGM 1991 ini mengungkapkan, Anies mampu menjelaskan proses demokrasi tanpa harus menghilangkan perbedaan. “Saat itu tidak semua elemen mahasiswa Islam dapat menerima itu. Lalu Anies tampil memberi edukasi pada elemen-elemen yang menolak untuk menerima proses demokrasi itu,” ujar Heru.

Guru Besar Tidak Tetap MM UGM Yogakarta ini menyebut dalam diri Anies gaya kepimpinannnya berorientasi pada outcome bagi banyak pihak. Hal ini yang menjadikan kepemimpinan cucu Pahlawan Nasional Abdurrahman Baswedan itu lebih transparan dan berwawasan ke depan serta berdampak transformasional bagi entitas di sekitarnya.

Menurut Heru, secara sederhana pemimpin yang transformasional ditunjukkan Anies dalam memberikan visi, arah, dan tujuan yang jelas. Ini terlihat dalam diri Anies dalam membangun harapan bersama, memotivasi, dan memberdayakan banyak pihak dan memberikan pengakuan secara manusiawi pada pihak lain dalam membangun DKI Jakarta. “Banyak pesan-pesan positif seorang leader dapat dipahami dengan jernih, mudah, dan memberdayakan,” jelasnya.

“Saya melihat dari sini, ada paduan kepemimpinan otentik dan transformasional dalam kepemimpinan Mas Anies. Istilah gagasan, narasi, dan kerja yang diikuti dengan konsistensi sikap, perilaku, dan kinerja perubahan menjadi jauh lebih baik di DKI Jakarta adalah contoh nyata paduan kepemimpinan otentik dan transformasional,” paparnya.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini mengungkapkan, dari perspektif spiritual, mantan Menteri Pendidikan RI itu merupakan sosok yang damai dengan berbagai pihak. Anies bukan tipe pendendam dan terbuka untuk berdiskusi dan bersinergi.

“Dalam hal bekerja dan berkinerja, Mas Anies adalah tipe sungguh-sungguh dalam merealisasikan gagasan untuk kepentingan banyak pihak, sehingga saya melihat karakter pejuang dalam dirinya atau fighter outside,” kata Heru.

Lebih jauh menurut dia, dengan karakter spiritual ini menjadikan Anies Baswedan sosok pemimpin autentik dan transformasional yang dibutuhkan bangsa ini ke depan. “Saat masyarakat melihat dengan jernih, kepemimpinan yang telah ditunjukkan Mas Anies adalah solusi atas kebutuhan bangsa Indonesia hari ini dan masa depan. Kinerja saat ini DKI Jakarta menjadi proyeksi Indonesia yang jauh lebih baik ke depan,” tutur Heru.

Ia mengakui secara jujur, saat ini dirinya sebagai guru besar tetap UMY dan tidak tetap MM UGM yang mengajarkan mata kuliah Leadership & Organizational Behavior, merasa sangat berterima kasih kepada Anies Baswedan.

“Gaya kepemimpinan Anies Baswedan menjadi mudah bagi saya menjelaskan contoh nyata kepemimpinan yang autentik sekaligus transformasional pada generasi muda di kelas. Ini adalah keteladanan pemimpin yang nyata, jelas dan menginspirasi,” kata dia. (kba)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.