Seiring dengan itu mulai muncul distrust dari sekalangan masyarakat yang tidak sepenuhnya percaya terhadap hasil survei yang dipublikasikan. Para pengusaha survei dianggap sebagai bagian dari proyek politik yang mempuntai target politik tersendiri.
Itulah yang terjadi terhadap Saiful Mujani yang beberapa hari ini menjadi sasaran ketidakpuasan dari sekalangan netizen. Dalam sebuah unggahannya Mujani mengatakan bahwa ada politisi pragmatis yang sekarang mendadak inklusif. Kata Mujani politisi itu tidak hanya masuk ke gereja, kalau harus makan babi pun ia rela asal bisa menjadi calon presiden.
BACA JUGA: Holywings
Tidak ada nama yang disebut Mujani. Tapi, kalangan netizen menganggap Mujani menyerang Anies. Maka berbagai macam komentar pun bermunculan merespons unggahan itu. banyak di antaranya yang menghujat Mujani karena dianggap anti-Anies. Lembaga survei Mujani, SMRC pun dituding sebagai bagian dari komplotan yang disewa untuk menjegal Anies.
Tuduhan semacam itu tidak sepenuhnya salah. Banyak lembaga survei yang secara sengaja memanipulasi hasil surveinya untuk dijual dengan harga tinggi kepada klien politik. Ketika peran lembaga survei menjadi penting dalam memengaruhi pemilih, maka para pengusaha survei pun bisa terperosok menjadi bagian dari oligarki politik.
Dibutuhkan etika dan hati nurani yang bersih bagi para pengusaha lembaga survei agar tidak terperangkap ke dalam kelompok ‘’survei terkutuk’’. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi