KEMPALAN: Pertarungan popularitas dan elektabilitas capres 2024 semakin tajam dan semakin mengerucut terbuka. Setidaknya untuk pencapresan sampai saat ini hanya mengerucut pada tiga calon, yaitu Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
Dua nama terakhir dianggap sebagai calon yang didukung oleh istana dan oligarki sedangkan Anies adalah calon yang selalu diposisikan sebagai musuh oligarki dan tidak disetujui oleh istana.
Sehingga posisi Anies selalu ditempatkan sebagai calon presiden dari kalangan oposisi. Tak heran kemudian Anies menjadi calon presiden yang harus dibully, difitnah dan diserang dengan berita bohong.
Berbagai hujatan dan fitnah banyak ditujukan kepada Anies, misalkan operasi inelejen dengan tajuk deklarasi dukungan kepada Anies yang mengatasnamakan FPI Reborn dan Majelis Sang Presiden.
Sebagai sebuah operasi intelejen tentu saja deklarasi itu harus mencapai targetnya yaitu memposisikan Anies sebagai calon presiden yang didukung Islam garis keras, pembawa tema khilafah dan presiden yang didukung kelompok intoleran.
Agar kesan itu bisa diterima dengan lancar kebenak publik, maka sebelumnya dilakuan framing yang dilakukan oleh PSI melalui Grace, bahwa PSI tak akan dukung presiden yang dikelilingi oleh kelompok intoleran.
Framing berjilid jilid ternyata tak mampu menggerus popularitas dan elektabilitas Anies dari benak publik, bahkan capres yang didukung istana dan oligarki tidak juga beranjak naik popularitas dan elektabilitasnya. Anies pelahan tapi pasti sudah menjadi top mind publik. Anies sudah menjadi idola dan harapan untuk melakukan perubahan ditengah sistim pengelolaan negara yang memuakkan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi