Artinya, baik kelompok nasionalis maupun kelompok Islam sama-sama memiliki saham di NKRI. Apalagi, fenomena konstelasi politik nasional mainstream belakangan menuju 2024 juga bergerak sangat cair, melintasi batas-batas pakem ideologis spektrum kiri dan spektrum kanan politik. Jangan pula keragaman, toleransi, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tersebut didengungkan bergeser jauh dari makna orisinalnya: misalnya menjadi sebuah Islamophobia. Di sisi lain, kita memang juga harus seimbang: bertindak nyata jika ada tindakan intoleran, radikal, inkonstitusional yang mengancam eksistensi Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Penulis cenderung sepakat dengan pandangan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. tentang Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Beliau menyebutkan, adalah penting meneguhkan keindonesiaan dengan jiwa “Bhinneka Tunggal Ika” yang utuh antara “kebhinnekaan” dan “ketunggalan” secara moderat atau dengan pandangan moderasi agar tidak terjebak pada paham yang sempit, parsial, dan radikal-ekstrem atau radikal-liberal mengenai kebhinnekaan.
Lebih lanjut Haedar mengatakan, “bhinneka” dan “tunggal ika” itu satu kesatuan. Bukan sesuatu yang terpisah. Jangan terus menggelorakan kebhinnekaan, seraya lupa atau abai menyuarakan ketunggalan atau kesatuan dan persatuan, sehingga terjadi ketidakseimbangan.
Pandangan “Bhinneka Tunggal Ika” niscaya dikonstruksi secara moderat dengan perspektif moderasi yang utuh dan tidak bias ekstremitas. Hindari sikap dan pandangan kebhinnekaan yang menebar virus perpecahan di negeri tercinta. Energi persatuan penting didorong kuat ke depan untuk menjadi alam pikiran kolektif yang positif di ruang publik. Karena sejatinya Indonesia itu tidak hanya “bhinneka” tetapi “tunggal ika.”
“Sudahi membidik anti-kebhinnekaan kepada golongan tertentu, tanpa refleksi apakah diri sendiri sudah benar-benar berpaham Bhinneka Tunggal Ika secara jujur dan autentik,” ujar Haedar. Menurut beliau, Indonesia harus bangkit dari radikal berbangsa ke moderat ber-Indonesia, dari dogma Pancasila ke praksis nyata, dari chauvinisme ke universalisme, permusuhan ke persatuan, euforia kebhinnekaan ke jiwa bersatu, dan dari menebar benci ke cinta kasih anak negeri.
Karena itu, penulis menyeru, agar dalam kontestasi pilpres 2024 lebih banyak diisi dengan adu politik gagasan dan program antar-kontestan, daripada serangan yang berusaha mendelegitimasi lawan politik dengan kampanye hitam yang membelah anak bangsa serta tidak substansial dalam memilih calon pemimpin bangsa terbaik. (Freddy Mutiara—jurnalis dan akademisi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi