Itulah yang dilakukan oleh Eril dan keluarganya. Ia ingin mencoba merenangi aliran sungai itu. Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Bandung dan dia akrab dengan beberapa sungai di sekitar tempat tinggalnya. Eril punya kemampuan renang yang terlatih. Ia juga punya brevet diving, olahraga menyelam dan berenang di kedalaman air. Dengan kualifikasi itu Eril bisa menghitung kecepatan arus air dan tahu bagaimana bermanuver dalam deras arus air.
Tapi temperatur tubuh Eril yang terbiasa hidup dalam iklim tropis Indonesia yang hangat sepanjang tahun belum cukup beradaptasi dengan cuaca dingin Swiss yang nyaris membeku sepanjang musim dingin. Sinar matahari musim semi hanya mampu menghangatkan permukaan air. Pada kedalaman satu meter atau lebih matahari tidak mampu menembus untuk memberi kehangatan.
Temperatur air yang dingin ini berpotensi menyebabkan kram kaki atau kram perut. Ketika seseorang terserang kram maka ia akan lumpuh dan tidak bisa menggerakkan anggota badan untuk berenang. Hal itu kemungkinan terjadi pada Eril. Ia sempat membawa sang adik menepi untuk menghindari arus besar. Beberapa detik kemudian badannya terseret arus. Ia melambai untuk membuat isyarat meminta tolong. Itulah komunikasi terakhir Eril dengan keluarganya.
Setelah itu, 14 hari yang panjang dan sunyi. Ridwan Kamil beberapa hari ikut bersama tim SAR menyusuri sungai dengan harapan untuk bisa menemukan Eril dalam keadaan selamat. Tetapi, hari berganti dengan lambat, dan pada hari kedelapan Ridwan Kamil memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia menyusuri pinggiran sungai untuk kali terakhir dengan harapan bisa menemukan jasad putranya.
Ridwan Kamil dan istri menyadari Eril harus diikhlaskan. Emil melakukan shalat ghaib untuk melepas sang putra. Di bantaran sungai ia melantunkan azan dan memimpin shalat. Selarik puisi ia tulis dan ia gantungkan di sebuah pohon di tepi sungai. Ia menitipkan jasad anaknya kepada Sungai Aare yang indah dan mengharap sang anak bisa tenang di kedalamannya.
Rabu pagi (8/6), Geraldine Beldi, seorang perempuan guru SD yang sedang berjalan menuju tempatnya mengajar melongok ke sebuah benda yang mencurigakan bendungan Engehalde yang tiap hari dilewatinya. Ia curiga melihat sepotong tangan yang menyembul pada sebuah sudut dam. Ia menelepon polisi yang segera mengirim tim ke lokasi dan menemukan jasad yang membeku dalam keadaan utuh.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi