JAKARTA-KEMPALAN: Secara mingguan, aset cryptocurrency mengalami penurunan. Salah satunya adalah anjloknya harga bitcoin. Sedangkan, pada perdagangan pagi menjelang siang tadi harga aset kripto bervariatif.
Dalam tujuh hari terakhir harga bitcoin anjlok 1,23 persen. Sedangkan, pada perdagangan hari ini harga bitcoin mencapai ke level USD 30.065 per BTC.
Saat ini bitcoin mencapai atau berada di level USD 3,7 miliar dari rata-rata volume trading mingguan. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan minggu lalu.
Namun, volatilitas atau indikator untuk menunjukkan stabilitas dari pasar keuangan dalam bulanan stabil berada di 4 persen yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan rata-rata volatilitas bulanan selama setahun terakhir yang hanya 3,6 persen.
Jika dianalisis secara teknikal, harga bitcoin dalam satu minggu terakhir sempat tembus ke level resistance di USD 30.500. Namun, saat ini level resistance pada bitcoin berada di level USD 34.500, sedangkan level support di level USD 29.000.
Level support sendiri merupakan level di mana harga cenderung berhenti bergerak turun dan kemungkinan besar akan naik lagi, sedangkan pada level resistance merupakkan level di mana harga cenderung akan berhenti naik dan kemungkinan akan turun lagi.
Berdasarkan Analis Pasar Reuters, Paul Spirgel, kedepannya bitcoin memiliki ruang bergerak yang terbatas. Ia memperkirakan level support pada bitcoin berada di kisaran USD 29.200 per koin.
“Titik resistance ada di US$ 31.700. Jika tertembus, maka ada peluang naik lagi menuju US$ 32.400,” ujar Paul dalam analisisnya.
Aset kripto pun semakin diakui secara luas. Negara yang dijuluki sebagai negara pecahan es pun, yaitu Kanada berencana untuk membuat regulasi kripto.
Deputi Gubernur Senior Bank Sentral Kanada (BoC), Carolyn Rogers, mengatakan bahwa investor di dalam negerinya itu semakin bertambah jumlahnya. Walaupun memang jumlahnya masih kecil, tetapi laju pertumbuhannya tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.
“Ini (perdagangan aset kripto) adalah area yang kecil, tetapi tumbuh sangat pesat dan sebagian besar belum ada regulasi. Kami tidak mau menunggu sampai pasarnya semakin besar sebelum membuatnya teregulasi,” ungkap Rogers. (Kontan/CNBC/Kompas, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi