JAKARTA-KEMPALAN: Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) mengatakan karena meluasnya wabah penyakit mulut dan kuku, saat ini harga sapi kurban di Indonesia mengalami kenaikan hingga Rp7 juta per ekor.
Tubagus Mufti Bangkit Sanjaya, Sekretaris DPD APDI DKI Jakarta, mengatakan bahwa saat ini kenaikan harga sapi kurban di Indonesia mencapai hingga 40 persen.
Mufti mengatakan pembelian sapi untuk kurban dengan menggunakan sistem jogrok atau per ekor biasanya dijual dengan harga Rp15 juta, tetapi tahun ini bisa mencapai hingga Rp22 juta per ekor.
Menurut Mufti kenaikan harga sapi kurban disebabkan karena adanya tambahan biaya modal oleh pedagang untuk memastikan sapi yang akan dijual dalam kondisi yang sehat. Selain itu, stok sapi kurban saat ini terbatas karena munculnya wabah PMK.
“Untuk penjualan sapi kurban terjadi kenaikan harga dan kekurangan pasokan juga akibat membengkaknya ongkos operasional karena harus melewati beberapa persyaratan dan pengecekan kesehatan hewan, proses karantina hewan selama 14 hari, jadi pengaruh ke harga,” ungkap Mufti.
Mufti menambahkan kenaikan harga sapi kurban bisa bertambah jika asal wilayah dari sapi kurban tersebut jauh.
“Harga naik rata-rata 25 persen sampai 40 persen bergantung dari mana asal sapi, apakah luar Jawa atau dari pulau Jawa,” jelasnya.
Saat ini sapi kurban yang dijual dengan bobot hidup mencapai Rp67 ribu per kilogram hingga Rp73 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya hanya mencapai Rp60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogramnya.
Provinsi sebagai pemasok sapi hidup hewan kurban yang paling terdampak dalam wabah PMK adalah Jawa Timur sehingga pasokan sapi di provinsi tersebut menjadi terganggu.
Nanang Purus Subendro, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), mengatakan ketika adanya wabah PMK pasokan sapi di Jawa Timur terbatas. Padahal, Jawa Timur merupakan provinsi pemasok sapi terbesar di Indonesia.
“Sehingga pasokan sangat terbatas, sangat kurang dari semestinya ini yang menyebabkan harganya terpaksa harus naik,” ujar Nanang. (CNN/Tempo, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi