Kondisi inilah yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Bang Yos. Indonesia dianggap terlalu condong kepada China untuk menjadi penyokong investasi infrastruktur ketimbang kepada negara lain. Dalam kasus pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung terlihat bagaimana pemerintah Indonesia lebih percaya kepada China ketimbang Jepang yang lebih berpengalaman dalam pengelolaan perkeretaapian.
Biaya investasi yang membengkak dan pembayaran yang dibebankan kepada anggaran negara menjadikan kekhawatiran tersendiri. Masih banyak lagi poyek infrastruktur bantuan China yang dikhawatirkan akan semakin membebani anggaran negara untuk membayar utang di masa depan. Kalau Indonesia tidak mampu lagi membayar utang investasi maka kejadian yang dialami oleh Bangladesh tidak mustahil akan terjadi di Indonesia.
BACA JUGA: Little Jokowi
Inilah sebenarnya poin utama kekhawatiran Bang Yos. Kedaulatan ekonomi Indonesia dikhawatirkan akan terkikis kalau ketergantungan utang investasi terhadap China semakin besar. Bantahan terhadap Bang Yos dengan menunjukkan data-data statistik mengenai jumlah tenaga kerja China yang hanya nol koma sekian persen tidak menjawab kekhawatiran itu.
Kekhawatiran terhadap serbuan orang asing sering disebut sebagai xenophobia. Kekhawatiran ini kemudian menghasilkan kebijakan yang protektif dan sering dianggap diskriminatif terhadap orang asing. Pemimpin Malaysia Mahathir Mohammad ketika menjadi perdana menteri pada era 1990-an menetapkan kebijakan ‘’affirmative action’’ yang memberi keistimewaan kepada penduduk asli bumiputra untuk memperoleh kesempatan pendidikan dan perekonomian.
Kebijakan ini diambil karena secara historis dan kultural penduduk bumiputra selalu ketinggalan dibanding warga etnis lain seperti China, India, dan Eropa. Kebijakan Mahathir ini sering disebut rasis dan diskriminatif, tapi Mahathir tetap jalan terus. Hasilnya, sekarang etnis bumiputra Malaysia sudah bisa bersaing dengan etnis lain dan sekarang lebih siap untuk bersaing secara terbuka.
Di Singapura etnis Melayu muslim bumiputra sekarang menjadi etnis minoritas yang cenderung marjinal dan tidak mampu bersaing secara terbuka dengan etnis China yang mayoritas. Etnis muslim Melayu bumiputra Singapura sekadar menjadi etnis budaya yang tidak mempunyai pengaruh dominan di bidang politik dan ekonomi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi