Banyak yang mengaku sebagai pengikut Bung Karno, tetapi tidak berhasil meyakinkan publik bahwa ia benar-benar mengikuti filosofi kepemimpinan Bung Karno. Di Indonesia banyak politisi yang mengutip Bung Karno dalam berbagai kesempatan berpidato, tapi belum ada yangbenar-benar mempunyai kaliber seperti Sukarno.
Sukarno dikenal dengan nasionalismenya yang tinggi dan keberpihakannya yang besar terhadap nasib rakyat. Kecintaan dan konitmennya terhadap perjuangan untuk kepentingan rakyat kecil dituangkannya dalam filosofi ‘’Marhaenisme’’ yang dia ambil dari nama seorang petani bernama Marhaen.
Petani Marhaen adalah tipikal petani Indonesia yang menjadi korban ketidakadilan struktural dalam sistem ekonomi yang kapitalistis. Marhaen hanya bisa menawarkan tenaganya sebagai buruh tani dan menjual jasanya kepada pemilik lahan. Orang-orang seperti Marhaen ini akan menjadi bagian dari lapisan terbawah rakyat miskin yang dipisahkan oleh gap yang sangat mengaga dengan kelompok elite yang menguasai modal dan alat-alat produksi.
BACA JUGA: Ancol dan Mandalika
Marhaen menjadi representasi ‘’wong cilik’’ yang menjadi fokus perjuangan Bung Karno. Marhaenisme dan pembelaan terhadap wong cilik ini kemudian menjadi jargon perjuangan partai-partai yang mengklaim diri sebagai partai nasionalis.
Partai PDIP di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai partai wong cilik dan mengasosiasikannya dengan perjuangan Bung Karno. PDIP menjadikan perjuangan kepentingan wong cilik sebagai identitas partai. Berbagai jargon yang identik dengan Sukarnoisme sering dikutip oleh petinggi-petinggi partai. Bahkan program utama kepresidenan Jokowi ‘’Nawacita’’ sengaja dimirip-miripkan dengan Sukarnoisme dengan keberpihakan kepada wong cilik sebagai fokus utamanya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi