Rabu, 27 Mei 2026, pukul : 15:20 WIB
Surabaya
--°C

Jumpa Nuim Khaiyath, Wartawan Legendaris Radio Australia

Nuim telah bekerja 40 tahun untuk ABC dan ia merasa keberadaannya sebagai warga Indonesia di Australia telah “memanfaatkan dan dimanfaatkan”.

Ia menjelaskan salah satu misi RASI adalah untuk saling memperkenalkan dua bangsa dan berharap bisa memberikan rasa saling pengertian.

“Kami memberikan penjelasan kepada masyarakat di Australia mengenai Indonesia dan dalam kasus tertentu mengenai Islam.

BACA JUGA: Salat Dhuhur dan Jadi Imam di Masjid Seharga 85 Miliar

Kemudian kepada para pendengar Radio Australia di Indonesia, kami mencoba memberikan penerangan, keterangan, penjelasan, mengenai keadaan yang sebenarnya di Australia,” tuturnya panjang lebar dalam sebuah wawancara dengan ABC Indonesia beberapa waktu lalu.

Salat Jumat di Hari Minggu

Kini, Nuim mengaku sangat gembira, di Melbourne sudah dibangun banyak masjid. Tercatat sekitar 56 Masjid. “Waktu tahun-tahun pertama di sini, tidak ada tempat untuk Salat Jumat di Melbourne. Cukup lama warga Muslim melaksanakan Salat Jumat pada hari Minggu di lapangan terbuka (taman). ” Karena cuma hari itu yang diizinkan, selain jemaahnya juga pada hari Jumat masih bekerja,” paparnya.

Setelah pensiun Nuim memilih tetap tinggal di Melbourne. Kenapa tak pulang ke Tanah Air? Jawabannya begini, “Kalau orang Medan mengatakan tempat jauh lagi dikenang, ini kan pula tempat bermain,” katanya.

BACA JUGA  Sidoarjo Memilih: Pesan Dingin Bupati Subandi di Tengah Hangatnya Pilkades Serentak 2026
Nuim Khaiyath masih bugar di usia senja

Nuim terus terang mengaku dia berat meninggalkan Melbourne.”Ketika masih kerja di RASI, saya bayar pajak lebih dari AUD 30.000 per tahun (Rp 320 juta). Jadi saya ikut membantu pemerintah [Australia],” katanya.

Kini setelah tak bekerja lagi, Nuim merasa giliran pemerintah Australia membantunya, karena sebagian pengeluarannya ditanggung oleh pemerintah Australia. Masa awal pandemi Covid-19, Nuim juga mendapat santunan uang dari Pemerintah Australia.

Heboh Syamsul Nursalim

Meskipun sudah lama mengenal nama dan kiprahnya, tapi pertemuan saya dengan Nuim secara fisik baru dua kali. Yang pertama, tiga tahun lalu. Waktu Salat Idul Adha 1440 H/2019 di Gedung Konsulat Jenderal RI di Melbourne. Nuim menjadi Imam dan Khatib Salat Ied waktu itu. Saya tertarik mewawancarainya karena kebetulan wartawan senior Marah Sakti baru saja menurunkan tulisan di “Ceknricek.com” berjudul “Kasus SKL-BLBI Dan Kesaksian Yang Menyudutkan Megawati” (7 September 2018).

BACA JUGA  Labschool Unesa Kirim Delegasi ke NTCUST Taiwan, Cetak Jagoan AI dan Robotik Masa Depan

Dalam tulisan itu nama Nuim Khaiyath disebut sebagai sosok yang memberi kesaksian mengenai keberadaan buron pengemplang BLBI 37 T Syamsul Nursalim di Melbourne. Padahal, seharusnya yang bersangkutan menghadiri sidang pengadilan di Tanah Air.

Nuim mengetahui Syamsul Nursalim berada di Melbourne untuk bertemu Taufiq Kiemas dan Puan Maharani. Nuim menyoal itu. “Jarak Singapura (tempat Syamsul Nursalim bersembunyi) dengan Jakarta hanya butuh satu jam penerbangan. Tapi Syamsul yang mengaku sakit bisa terbang ke Australia yang berjarak 8 jam penerbangan,” kata Nuim.

BACA JUGA: Miing Bagito Pasca Bypass: Alhamdulillah, Operasi Lancar

Apalagi tidak lama setelah pertemuan itu pemerintah RI pun menerbitkan Surat Keterangan Lunas (SKL) untuk Syamsul Nursalim. Kejadian tahun 2002 itulah yang diungkit kembali dalam tulisan Marah Sakti berdasar kesaksian Nuim.

Bagaimana kelanjutan kisah itu?

“Tidak ada. Senyap aja. Tidak ada folllow up. Sumber saya yang mengetahui peristiwa pertemuan di Hotel Hyatt Melbourne itu, sangat ketakutan. Dia langsung pindah tempat pekerjaan,” ungkapnya.

Menurut Nuim cerita itu ditanyakan juga waktu dia diwawancarai Radio Rasil Jakarta, Senin pagi kemarin.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.