Nuim sudah lebih setengah abad tinggal di Melbourne. Namun dia mengaku tetap mempertahankan kewarganegaraan RI nya. Tahun 2020 sebelum pandemi dia pulang ke Medan.
Dia berniat tinggal di kampung halamannya untuk masa sebulan. Pandemi Covid-19 kemudian merebak di seluruh dunia. Ia baru menikmati 10 hari liburan di Medan saat dia memutuskan segera kembali ke Melbourne.
Sabtu Gembira
Jabatan terakhir Nuim Di ABC adalah Kepala Siaran Bahasa Indonesia di Radio Australia (RASI). Acaranya yang populer adalah Sabtu Gembira (SAMBA), yang dibawakan dalam logat Melayu Medan. Acara tersebut disiarkan pula oleh Radio Delta FM setiap hari Sabtu pagi.
Acara lain yang diasuhnya di RASI adalah PERSPEKTIF, dan Dunia Olahraga. Selain itu dia juga tampil dalam siaran life 105.8 FM Jakarta, setiap Senin pagi dalam acara Postcard from Melbourne. Pengetahuannya yang luas membuatnya sangat populer di kalangan pendengar radio tersebut, sehingga ia mendapat julukan “Kamus Berjalan”.

Aktivitas rutin yang dilakukannya di luar siaran radio adalah menulis esai, berenang, dan membaca. Sejak tiga tahun lalu, esainya banyak disiarkan di Ceknricek.com. Nuim telah menerbitkan sebuah buku baru “Dunia Di Mata Nuim Khaiyath”.
“Titip salam buat Bang Nuim, ” pesan Marah Sakti ketika tahu saya bertemu dengan Nuim.
“Wow. Itu penyiar idola aku. Pernah sama-sama jadi penyiar di Radio Delta,” timpal Rita Sri Hastuti, pengurus PWI Pusat dan anggota Lembaga Sensor Film di Indonesia, di WAG warga PWI.
Sayang, pesan itu disampaikan tiga jam setelah kami pisah dengan Nuim Khaiyath. Mudah-mudahan dia membalas setelah membaca ini. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi