MOSKOW-KEMPALAN: Pada akhirnya, McDonald, yang menjadi lambang kapitalisme di negara ex-komunis sudah mulai tumbang. Sudah sekitar 3 dekade ketika restoran makanan saji tersebut membuka bisnisnya di Uni Soviet.
Secara total, Rusia dan Ukraina menyumbang 9% total pemasukan McDonald.
Jika dihitung, maka McDonald akan mengalami kerugian 1,4 Miliar USD karena meninggalkan Rusia.
McDonald pada saat ini memiliki 850 restoran di Rusia dan mempekerjakan sekitar 62 ribu orang di Rusia.
Alasan utama minggatnya McDonald dari Rusia adalah karena konflik Rusia-Ukraina yang dianggap tidak sesuai dengan nilai yang dimiliki McDonald.
CEO McDonald yaitu Chris Kempczinski mengatakan bahwa dedikasi dan loyalitas warga Rusia kepada McDonald menjadi keputusan yang sulit—namun tetap harus dilaksanakan karena tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai perusahaan.
“Namun, kami memiliki komitmen untuk komunitas global—dan kami harus berpegang teguh dengan nilai kami. Di Rusia, nilai-nilai perusahaan kami mulai redup karena konflik Rusia-Ukraina” ucap CEO McDonald.
Perusahaan Barat sedang kebingungan untuk mempertahankan diri mereka di Rusia—entah karena permasalahan penundaan operasi, sanksi hingga permasalahan lainnya.
Beberapa perusahaan Barat mengumumkan akan tetap tinggal di Rusia—namun banyak juga perusahaan yang memutuskan untuk minggat.
Salah satunya adalah perusahaan mobil asal Prancis yaitu Renault yang mengatakan akan menjual hampir semua asetnya di Rusia.
Analis mengatakan bahwa pada saat ini, Rusia akan memulai era baru dalam ekonominya dikarenakan adanya isolasi dari dunia global.
(Muhamad Nurilham, Aljazeera)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi