Senin, 6 Juli 2026, pukul : 16:58 WIB
Surabaya
--°C

Dari Guru Ngaji Menuju Ekosistem Kebaikan Digital

SURABAYA—KEMPALAN: Rumah Qur’an Al Falah, Kentintang, Surabaya, akan menjadi titik temu antara tradisi pengajaran Al-Qur’an, penguatan kapasitas guru ngaji, dan ikhtiar membangun ekosistem kebaikan berbasis digital, Selasa, 7 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB itu mempertemukan para guru ngaji dalam sebuah agenda yang tidak sekadar bersifat seremonial. Di dalamnya, terdapat upaya untuk memperkuat peran pengajar Al-Qur’an sekaligus memperkenalkan model kolaborasi sosial, wakaf, dan pemberdayaan yang terhubung melalui teknologi digital.

Rangkaian acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembukaan dan sejumlah sambutan. Sesi awal yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB itu menjadi ruang silaturahmi sekaligus pengantar terhadap arah kegiatan. Para peserta diajak melihat kembali posisi strategis guru ngaji di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat.

Guru ngaji selama ini bekerja di ruang-ruang yang kerap jauh dari sorotan. Di rumah Qur’an, masjid, mushala, kampung, dan lingkungan pendidikan, mereka menjaga mata rantai pembelajaran Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi masyarakat menghadirkan tantangan baru. Pengabdian yang selama ini berjalan secara lokal membutuhkan jejaring yang lebih luas agar dapat tumbuh, saling menopang, dan berkelanjutan.

Memasuki pukul 09.00 WIB, kegiatan berlanjut dengan sosialisasi Indonesia Berbagi Kebaikan (IBK) dan Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA). Selama satu jam, peserta diperkenalkan pada gagasan membangun ekosistem kebaikan yang menghubungkan pembelajaran Al-Qur’an, komunitas, aktivitas sosial, wakaf produktif, serta pemberdayaan masyarakat.

Di sinilah teknologi ditempatkan bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai jembatan.

Melalui Aplikasi Berbagi Kebaikan, berbagai unsur dalam gerakan sosial dan Qur’ani diharapkan dapat saling terhubung. Guru ngaji, penghafal Al-Qur’an, pelajar, mahasiswa, komunitas, wakif, donatur, penggerak dakwah, hingga penerima manfaat tidak lagi berjalan dalam ruang yang terpisah-pisah.

Gagasan itu dirangkum dalam semangat “Satu Klik, Sejuta Manfaat.”

BACA JUGA  Di Muswil ICMI, Arif Satria Tegaskan Kolaborasi dengan BRIN dan Kampus untuk Dongkrak Riset Nasional

Konsep yang diperkenalkan berangkat dari pandangan bahwa satu orang dapat memainkan lebih dari satu peran dalam ekosistem. Seseorang dapat menjadi wakif yang ikut menumbuhkan program produktif, menjadi Agent Kebaikan yang mengajak dan memperluas manfaat, sekaligus menjadi penerima manfaat yang memperoleh akses terhadap pembelajaran, pembinaan, pelatihan, maupun pemberdayaan.

Dengan pendekatan tersebut, kebaikan tidak berhenti pada hubungan satu arah antara pemberi dan penerima. Penerima manfaat hari ini diharapkan dapat tumbuh menjadi penggerak kebaikan pada masa berikutnya.

Semangat serupa hadir dalam gagasan penguatan penghafal Al-Qur’an dan dakwah mandiri. Transformasinya dirumuskan melalui alur sederhana: Hafal, Ajarkan, Gerakkan, Berdayakan, lalu Mandiri.

Seorang penghafal Al-Qur’an, dalam kerangka ini, tidak berhenti pada capaian personal. Hafalan menjadi pintu masuk untuk mengajar. Aktivitas mengajar berkembang menjadi gerakan. Gerakan melahirkan komunitas. Komunitas kemudian dihubungkan dengan peluang pemberdayaan agar tumbuh lebih mandiri.

Gagasan Qur’ana Go To School juga menjadi bagian dari visi tersebut. Program ini mendorong pelajar untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada sesama pelajar melalui pendekatan sebaya. Sekolah tidak hanya dipandang sebagai ruang pendidikan formal, tetapi juga sebagai tempat tumbuhnya komunitas yang saling belajar dan saling menguatkan.

Dalam sesi sosialisasi, peserta juga diperkenalkan pada model Wakaf Indukan Domba sebagai salah satu bentuk wakaf produktif. Program ini membawa pendekatan bahwa wakaf dapat dikembangkan menjadi aset produktif yang manfaatnya terus bertumbuh.

Melalui dukungan sistem digital, partisipasi masyarakat diharapkan semakin mudah, transparan, dan dapat dipantau. Wakaf tidak berhenti pada penyerahan dana, tetapi dihubungkan dengan proses pengelolaan, monitoring, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

Selepas sesi sosialisasi IBK dan BWA, agenda berlanjut pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dengan Refresh Guru Ngaji dan Pembagian Sertifikat.

Sesi dua jam ini menjadi ruang penyegaran bagi para guru ngaji. Di tengah derasnya perubahan zaman, mereka diajak memperbarui semangat, memperkuat kapasitas, dan melihat kembali posisi pentingnya dalam membangun masyarakat.

BACA JUGA  Khofifah Lepas Ekspor 405 Ton Ikan Kaleng Banyuwangi ke Pasar Global

Teknologi digital boleh berkembang cepat. Aplikasi dapat memperpendek jarak. Informasi dapat bergerak dalam hitungan detik. Namun, proses mendampingi seseorang membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, menjaga semangat belajar, dan menanamkan nilai tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Karena itu, digitalisasi tidak ditempatkan untuk menggantikan guru ngaji. Teknologi justru diarahkan untuk memperkuat mereka—memperluas jaringan, menghubungkan komunitas, membuka peluang kolaborasi, serta menghadirkan akses yang lebih besar terhadap program pemberdayaan.

Pembagian sertifikat menjadi bagian penutup sesi tersebut. Lebih dari sekadar dokumen administratif, sertifikat diharapkan menjadi bentuk penghargaan atas proses belajar, pengabdian, dan komitmen para guru ngaji dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an.

Setelah seluruh rangkaian utama selesai, peserta memasuki waktu istirahat, shalat, dan makan pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Momentum itu sekaligus menjadi ruang informal untuk memperkuat silaturahmi dan membuka percakapan baru di antara para peserta.

Keseluruhan kegiatan membawa satu benang merah: kebaikan perlu dibangun sebagai siklus yang terus bergerak.

Seseorang belajar, lalu mengajar. Dari mengajar, terbentuk komunitas. Komunitas terhubung melalui teknologi. Dari sana lahir partisipasi, manfaat, pemberdayaan, dan pada akhirnya kemampuan untuk kembali memberi.

Dalam bahasa ekosistem Qur’ana, siklus itu bergerak dari Learn, Give, Share, Grow, Benefit, Empower, hingga Give Again.

Rumah Qur’an, dengan demikian, tidak hanya dipandang sebagai tempat seseorang belajar membaca ayat. Ia dapat tumbuh menjadi simpul komunitas, ruang kolaborasi, pusat gerakan sosial, dan pintu menuju kemandirian.

Dari Rumah Qur’an Al Falah di Kentintang, sebuah gagasan sedang dirawat: bahwa masa depan gerakan Al-Qur’an tidak harus memilih antara tradisi dan teknologi. Keduanya dapat berjalan bersama.

Berakar pada nilai, terhubung secara digital, bergerak melalui kolaborasi, dan tumbuh menuju kemandirian.[]

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.