Lora Ismail Al-Kholili, salah satu Bani Kholil Bangkalan dalam sebuah akun instagramnya, menuliskan tentang sosok Kiai Fakhri. ’’Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun, selamat jalan Kiai Dzikir dan Sholawat,’’ tulisnya.
Lora Ismail mengenang Kiai Fakhri memiliki jasa sangat besar untuk Kabupaten Bangkalan.
Dalam amatan Lora Ismail, beberapa tahun lalu. Di kampung kampung Bangkalan selalu dijumpai pertunjukan orkes atau dangdutan.
Melalui dakwah alm Kiai Fakhri suasana kampung mulai berubah. Masyarakat ikut menggalakkan majelis dzikir dan shalawat.
“Kiai Fakhri orang yang kali pertama mengusulkan tagline Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat. Saya sendiri menyaksikan,” tulisnya.
“Bangkalan Kota Dzikir dan Shalawat tertulis dalam sebuah papan besar di pintu masuk Kabupaten Bangkalan,” sambungnya.
Lora Ismail menyaksikan langsung totalitas dan perjuangan Kiai Fakhri dalam membumikan dzikir dan shalawat di Bangkalan.
“Dalam satu malam, almarhum bisa memiliki jadwal pengajian sebanyak delapa sampai sembilan titik. Itu belum termasuk jadwal-jadwal beliau (Kiai Fakhri, Red) di siang hari seperti mengajar dan lain sebagainya,” cerita dalam postingan.
Testimoni juga datang dari Anwar Sadad-teman almarhum sewaktu nyantri di Ponpes Sidogiri, Pasuruan.
Ketua DPD Partai Gerindra Jatim ini menulis lewat twitter-nya.
“Selamat jalan, Ra Fakhri. Irji’i ila rabbiki radliyatan mardliyah. Fadkhulī fi ‘ibadi wadkhuli jannati,” tulis politikus keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan yang akrab disapa Gus Sadad itu di akun Twitter-nya @ansadad.
Lewat cuitannya, Sadad lantas membagikan kenangan masa remaja dengan cicit Syaikhona Muhammad Cholil tersebut saat masih sama-sama nyantri di Ponpes Sidogiri.
“Saya dan almarhum teman sekelas mulai kelas 1 sampai dengan 3 tsanawiyah di Ponpes Sidogiri. Teman sekelas kami ada Cholil Nafis, rais PBNU,” kenang Sadad yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim itu.
Bagi Sadad, Kiai Fakhri sudah terlihat kharismatik sejak di bangku madrasah.
“Sudah nyungkani. Kami biasa berbincang di sela waktu istirahat. Kami pernah bertukar pakai kacamata, untuk beradu siapa yang paling besar minusnya,”.
Tak hanya itu, Sadad menilai Kiai Fakhri tergoling sosok yang haus ilmu. Tak jarang dia membawa kitab ke kelas, bukan kitab pelajaran.
“Saya ingat pernah membawa kitab al-Anwar al-Muhammadiyah yang ditulis Sayid Muhammad al-Maliki. Ra Fakhri fasih menerangkan isi kitab tersebut,” kenang Sadad.
Dari Sidogiri. Kiai Fakhri mengembara menuntut ilmu ke Makkah. Pertengahan kelas tiga tsanawiyab, Kiai Fakhri meninggalkan Sidogiri menuju Makkah.
“Saya tidak tahu pasti beliau studi di mana, tapi dugaan saya di Ma’had Sayid Muhammad bin Alawi. Wallahu a’lam,”.
Sejak Kiai Fakhri mondok ke Makkah, Sadad tak lagi berhubungan. Kecuali beberapa kali bertemu saat ada acara di Sidogiri atau jika kebetulan sama-sama hadir di acara NU.
“Saya mengikuti kiprahnya dari berita di media atau sosmed, atau cerita kawan-kawan seangkatan kalau lagi ngumpul. Saya tahu jiwa dakwahnya menyala-nyala, menurun dari buyutnya, Syaikhona Muhammad Cholil,” tulis Sadad.
Kini Ra Fakhri telah pergi. Tapi Sadad yakin almarhum masih ada dalam hati dan semangat para santri dan muhibbin. Sebagaimana Ra Fakhri mewarisi darah ulama dan pejuang dari ayah dan kakek-buyutnya, serta mewariskannya kepada anak-anaknya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi