Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 15:18 WIB
Surabaya
--°C

Menyoal Spanduk Lebaran Politisi

“Tapi menurutku para politisi yg hanya bisa memajang spanduk seperti itu  adalah politisi norak, pemalas,  narsis dan tidak punya konsep” ujar Ary tampak jengkel.

Sejenak suasana hening.

“Kalau hubungan antara spanduk dengan kedungunan akut  bagaimana penjelasannya Bro Ary?” tanya Maharani.

“Begini.  Pada era informasi saat ini, dimana akses mendapatkan berita dan rekam jejak seseorang berada pada genggaman tangan publik, cara-cara berpolitik lewat media luar ruang seperti spanduk itu sudah tidak lagi efektif. Ini bukan kata gue, tapi gue baca pada artikel suatu jurnal bereputasi. Hanya maaf nama jurnalnya gue  lupa lagi..hehe..

Pada artikel tersebut dilaporkan, bahwa kampanye politik melalui media spanduk dan sejenisnya, hanya menyumbang elektabilitas politisi yg terlibat dalam kontestasi pileg tahun 2019 lalu hanya  20 persen saja. Sedangkan yg paling besar, adalah rekam jejak kerja-kerja sosial para politikus tersebut di masyarakat.

Nah apa  namanya kalau bukan sebuah kedungunan akut saat politisi tersebut rela mengorbankan banyak duit untuk membuat ratusan spanduk, padahal semua itu hanya sedikit saja menyumbang elektabilitas mereka? Oh ya pada artikel tersebut ditemukan fakta bahwa sebanyak 10 persen responden menyatakan gegara banyaknya spanduk para politikus tersebut membuat mereka  kehilangan simpati. Artinya spanduk-spanduk tersebut justru menjadi kontraproduktif..” Ary mencoba menjelaskan panjang lebar.

“Tapi saat ini konteks  spanduk para politisi tersebut dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, Bro. Isinya hanya doa ucapan selamat dan permohonan maaf. Tidak ada ajakan memilih para politikus tersebut, karena bukan sedang Pileg” kata Harbatah.

“Memang tujuan yg ingin mereka capai lewat pemasangan spanduk-spanduk tersebut sebatas mendongkrak popularitas. Harapannya setelah lebih dikenal akan turut meningkatkan elektabilitas saat Pileg nanti. Jadi para politisi tersebut mengambil kesempatan dari adanya berbagai peringatan berbagai hari besar Nasional atau keagamaan.” ujar Ary.

“Wah kalau begitu-begitu amat sih emang layak mereka dijuluki politikus spanduk. Masa kerjanya mejeng terus sepanjang tahun melalui spanduk. Kayaknya menarik tuh kalau diteliti oleh Mbak Maharani sebagai mahasiswi ilmu politik hehe..” gurau Agus sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Nah, jadi terinspirasi mencermati dan membahas isi spanduk lebaran para politisi tersebut. Selain wajah sumringah mereka narasi pada spanduk tersebut ada ucapan  selamat hari raya Idul Fitri serta  permintaan permohonan maaf lahir batin” tiba-tiba Iskandar ikut berkomentar.

“Lantas?” tanya Maharani meminta penjelasan kepada Iskandar.

“Itu kan bisa ditafsirkan para politikus tersebut memposisikan dirinya seolah-olah  sudah dikenal khalayak atau publik. Makanya mereka menyampaikan ucapan selamat dan permintaan maaf lewat spanduk tersebut. Padahal faktanya tidak demikian. Ge’er. Betul mereka itu. Haha..” kata Iskandar terbahak.

“Ya..ya.. bener juga pendapat Bro Iskandar ini. Lagi pula lazimnya orang-orang akan saling bermaafan selain sebelumnya  sudah saling kenal juga kalau dirasakan memiliki kesalahan. Jadi jangan-jangan para politisi tersebut dalam dirinya sudah merasa bersalah kepada khalayak, sehingga merasa perlu meminta maaf walaupun melalui spanduk.. hehe..”  kata Agus.

“Setuju.. mereka mengaku sebagai para pendosa secara politik haha..” ujar Harbatah terbahak-bahak.

Majelis ghibah anak-anak muda kritis tersebut terpaksa harus dihentikan. Dari pengeras suara terdengar panggilan kepada para penumpang travel agar segera memasuki kendaraan, karena katanya perjalanan menuju ibukota akan dilanjutkan. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.