Senin, 4 Mei 2026, pukul : 14:04 WIB
Surabaya
--°C

Berbagai Cerita Seputar Idul Fitri

KEMPALAN: Dari perspektif agama Islam, Idul Fitri merupakan perayaan kemenangan setelah sebulan berperang melawan hawa nafsu diri sendiri. Kemenangan ini patut dirayakan karena perang ini adalah perjuangan besar melawan musuh terbesar, yaitu diri sendiri.

Namun dalam tradisi budaya Indonesia, perayaan Idul Fitri identik dengan kebahagiaan dan kegembiraan dalam suasana yang khas. Perayaan dimulai pada malam takbir dengan menyalakan petasan dan kembang api dalam suasana gembira dan sorak sorai. Suasana berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi ke rumah sanak saudara dengan baju baru, makan ketupat, opor ayam dan kue-kue lebaran. Orang-orang dewasa membagikan uang jajan kepada anak-anak. Anak-anak ini akan bergembira menerimanya dan “memamerkan” uang yang didapat. Dalam kesempatan ini penulis ingin berbagi cerita dan pengalaman seputar perayaan Idul Fitri dalam perspektif budaya Indonesia.

Cerita pertama adalah seputar keluarga asisten rumah tangga (ART). ART ini menyampaikan bahwa kalau ngga ada perayaan lebaran, maka ibunya (yang oleh anak-anaknya dipanggil si nenek) akan menangis sedih. Jadi harus ada. Untuk perayaaan ini, si nenek juga sudah menabung. Tabungan si nenek berupa sembako yang merupakan upah salah satu anak yang bekerja sebagai kuli panggul di pasar, termasuk terigu dan kerupuk yang belum digoreng. Si nenek juga “menabung” di kebun, yaitu bumbu-bumbu dapur, pohon pisang, pohon pepaya, dan lain-lain.

Kesibukan dapur si nenek dimulai 3-4 hari sebelum lebaran dengan membuat cemilan biji ketapang, atau lainnya, menggoreng kerupuk, menyiangi bumbu-bumbu.

Di rumah ART ini tidak dibuat ketupat karena kulit ketupat harus didapat dengan mengeluarkan uang, tetapi dibuat lontong dengan memetik daun pisang yang ada di kebun. Kuah lontong dibuat sepanci besar dengan pepaya mentah dicacah yang dipetik dari kebun sebagai sayurnya. ART ini sebagai salah satu anaknya, akan datang membawa kue kaleng dan daging ayam 1 atau 2  ekor tergantung anggaran yang ada, kebutuhan lain, dan uang receh yang akan dibagikan pada anak-anak kecil. Setelah sholat Ied, tibalah saat-saat yang dinanti.

Anak cucu berkumpul. “si nenek ngga mau meja kosong. Harus penuh makanan. Lontong, kuah, krupuk bebas Bu. Boleh ambil berapa aja sampe kenyang. Kalau ayam dijatahin supaya semua kebagian.” Begitulah ART ini menjelaskan keinginan si nenek. Perayaan Idul Fitri di rumah ART berakhir “happy ending” karena si nenek bahagia semua anak cucu berkumpul, kenyang dan gembira.

Cerita kedua adalah pengalaman setelah sholat Ied di lingkungan rumah. Setelah sholat Ied, orang-orang dewasa saling bersalaman dan ngobrol-ngobrol sambil makan ketupat lebaran dan kue-kue yang disediakan panitia masjid agar suasana lebaran tercipta. Anak-anak bergembira bermain bersama “gank”nya sambil memamerkan uang jajan yang ada di tangan mereka. Di lingkungan tempat tinggal ada beberapa anak yatim. Ada yang berkecukupan secara finansial, namun ada yang tergolong kurang. Beberapa anak yatim yang tergolong kurang secara finansial ini berperilaku berbeda-beda ketika sehabis sholat Ied. Ada yang  bermain dengan anak-anak lain, beberapa anak diam dan beberapa bergelayut pada ibunya.

Sungkeman kepada orang tua pada hari Raya Idul Fitri. (Foto: iStock)

Dalam kesempatan ini saya dan salah seorang pengurus masjid memanggil anak-anak ini, dan membagikan “amplop” kepada mereka. Jumlahnya tidak seberapa tetapi berharap dapat  membuat anak-anak ini gembira. Ada yang katanya mau dipakai beli bunga untuk ke makam ayahnya. Ada yang sambil lari bergabung dengan teman-temannya sambil “memamerkan” amplop yang didapat.

Cerita ketiga adalah pada sore hari bertemu dengan sebuah keluarga yang tidak merayakan Idul Fitri, tetapi ditinggal mudik sopir dan para asisten untuk merayakan Idul Fitri di kampung.  Keluarga ini memiliki rumah besar, beberapa mobil, apartemen, vila yang semuanya mewah. Sang Bapak usia lebih 85 tahun, kondisi kesehatan sudah tidak memungkinkan kemana-mana. Sang Ibu ini berusia lebih dari 80 tahun dan pendengaran dan kemampuan berpikir sudah berkurang.

Anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Bila Ibu ini mau ke suatu tempat, tidak ada sopir yang mengantar. Bila mau jalan-jalan ke suatu tempat, tidak berani karena pendengaran dan pemikiran sudah berkurang. Dengan suasana liburan, Sang Ibu men-chat minta tolong diantar ke apartemen dengan mengajak seorang teman seusia ngobrol-ngobrol. Setelah 2 hari di apartemen, dan persediaan makanan habis, semua tempat makan di kompleks apartemen tutup, mau pesan makanan online tidak bisa karena gaptek. Maka Ibu ini kembali minta dijemput.

Dari potongan cerita si nenek, maka bisa kita tangkap bahwa Allah mencukupkan rezeki kepada kita, tetapi bukan dengan kita diam saja dan rejeki itu datang sendiri. Rejeki itu harus dicari, diupayakan sesuai dengan kemampuan kita dan hasilnya diatur sesuai dengan yang didapat sehingga mencukupi kebutuhan keluarga. Untuk mencukupi hidangan lebaran anak cucu, si nenek mengupayakan sesuai dengan kemampuannya. Si nenek “menabung” pohon pisang, pohon pepaya, bumbu-bumbu dapur di kebun. Kayu-kayu bakar dipersiapkan.

Si nenek bekerja dengan cinta dan semangat dalam mempersiapkan lebaran. Si nenek juga minta anak-anaknya saweran menabung hasil kerja sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dalam menyediakan hidangan lebaran juga diatur sesuai dengan kemampuan sehingga seluruh keluarga besar bahagia dan gembira. Rejeki adalah juga non materi.  Rejeki non materi ini  juga tidak datang sendiri. Rejeki non materi ini juga harus diupayakan dengan membiasakan semangat saweran, gotong royong dalam persiapan lebaran, berkumpul keluarga makan bersama dan bersilaturahmi dengan keluarga besar.

Cerita kedua tentang anak yatim yang berkekurangan secara materi dan cerita ketiga tentang orang kaya yang terbengkalai kebutuhannya karena ditinggal mudik sopir dan para asisten membawa saya pada peneguhan makna “berkecukupan” dan “berkekurangan” rejeki yang tidak identik dengan materi / finansial. Berkecukupan dan berkekurangan rejeki bisa berbentuk uang, rumah, mobil, namun juga sanak-keluarga yang rukun, orang-orang baik di sekitar kita, perhatian dan pertolongan yang kita butuhkan. Semoga Allah selalu mengabulkan ketika kita berucap

Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fuanni” dan semoga kita selalu menjadi kelimpahan rejeki bagi orang lain. Muslim maupun non muslim dan seluruh alam karena Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin bukan Rahmatan lil Muslimin. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.