Kondisi ini seperti yang terjadi saat ini, Jokowi yang konon dipilih dengan jargon berkoalisi dengan rakyat, ternyata ibarat seorang pemburu yang menunggangi kuda. Rakyat diibaratkan kuda yang dipasang besi dan pelanan, dan Jokowi bersama oligarki yang mengelilingi mengendalikan mereka. Rakyat ditunggangi untuk meraih kekuasaan dan mendapatkan kendali. Kebijakan-kebijakan Jokowi sangat brutal. Bayangkan dalam beberapa pekan menjelang Ramadhan, Jokowi membiarkan minyak goreng langka, ketika tiba – tiba pemerintah mengumumkan harga eceran tertinggi diserahkan pasar, tak begitu lama minyak goreng melimpah di pasaran, lalu apakah rakyat mampu beli? Bahkan yang lebih menyakitkan pernyataan menteri Bahlil yang mengatakan baik mana minyak goreng dengan harga murah tapi tidak ada dipasaran dibanding mahal tapi banyak beredar di pasaran? Janji untuk menangkap mafia minyak goreng toh hanya isapan jempol belaka.
Jokowi melakukan pembiaran terhadap permainan mafia minyak, masayarakat pun bertanya ada apa dengan Jokowi? Apakah Jokowi menjadi bagian dari mafia yang berada didalam oligarki yang sekarang berada di istana? Bahkan Jokowi rela menggunakan uang negara untuk mengatasi dengan pemberian bantuan BLT minyak goreng. Jokowi datang seolah sebagai penyelamat, nyatanya apa yang dilakukan hanyalah mencari jalan aman di antara dua kepentingan, kepentingan supaya tidak dihujat rakyat dan kepentingan supaya tidak ditinggal oligarki.
BACA JUGA: Anies Menghadirkan Pemimpin yang Menggerakkan dan Mengayomi
Bahkan kebijakan jahat lain dilakukan terhadap rakyat yang membantunya meraih kekuasaan, BBM jenis pertamax dinaikkan yang berakibat naikknya harga bahan bahan yang lain. Rakyat pun semakin menjerit dan kelimpungan. Apakah Jokowi mendengar mereka? Justru jawaban Jokowi bersama para penggarong jabatan menggulirkan isu tiga periode. Sebuah perilaku yang jauh dari kata bermoral.
2024 harus diniatkan betul oleh rakyat bahwa berpolitik itu adalah mengamankan kepentingan, kepentingan agar rakyat sejahtera harus diperjuangkan. Dalam rangka menitipkan kepentingan itu, rakyat harus jeli kepada siapa yang akan dipilih.
BACA JUGA: Pak Presiden, yang Kami Butuhkan Ketersediaan Sembako Murah
Rakyat harus bisa melihat seorang calon itu betul-betul merakyat atau pura-pura merakyat. Jangan sampai rakyat dibodohi dua kali, dulu Jokowi juga kelihatan merakyat, tapi begitu terpilih ternyata terlihat sekali kebijakannya bengis terhadap rakyat. Hari ini kita seolah melihat hitler dan Mussolini bangkit kembali. Sehingga bisa jadi di dalam kuburnya Machiavelli juga membenarkan apa yang pernah dikatakannya.
Jokowi kebijakannya ibarat menggoreng minyak goreng. Membiarkan mafia minyak berkeliaran dan mendapatkan keuntungan berlimpah dan rakyat seolah diselamatkan dengan bantuan BLT minyak goreng. Akhirnya negara dan rakyat yang kalah, Jokowi dan oligarki tetap pemenangnya. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi