Sabtu, 11 Juli 2026, pukul : 14:18 WIB
Surabaya
--°C

Muaythai Jatim Revolusi SDM: 80 Peserta dari 25 Daerah Kuras Ilmu IFMA, Siap Lahirkan Wasit dan Pelatih Berkelas Dunia

SURABAYA — KEMPALAN: Sebuah momentum penting bagi perkembangan olahraga beladiri asal Thailand di Indonesia terjadi di Aula KONI Jawa Timur, Sabtu (11/7/2026). Pengurus Provinsi (Pengprov) Muaythai Indonesia (MI) Jatim menggelar Penataran Pelatih, Wasit, dan Juri yang tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan sebuah gerakan revolusioner untuk membangun ekosistem olahraga berstandar internasional. Kegiatan bertajuk “Membangun SDM Muaythai yang Profesional, Berintegritas, dan Berstandar Internasional” ini diikuti oleh 80 peserta yang merupakan perwakilan dari 25 kabupaten/kota se-Jawa Timur, menjadi bukti nyata geliat positif olahraga ini di Bumi Majapahit.

Antusiasme yang meledak ini menuai apresiasi tinggi dari Ketua Pengprov MI Jawa Timur, Baso Juherman. Menurutnya, derasnya animo peserta bukanlah fenomena kebetulan, melainkan cerminan dari prestasi gemilang yang telah diraih atlet-atlet Jatim di kancah dunia. “Penataran ini diikuti 80 peserta dari 25 kabupaten/kota. Ini menandakan muaythai sedang berkembang pesat dan semakin digandrungi masyarakat,” ujar Baso dengan nada optimistis. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan jumlah kejuaraan di tingkat daerah secara otomatis meningkatkan kebutuhan akan perangkat pertandingan yang kredibel dan profesional.

“Semakin banyak kejuaraan, maka kebutuhan terhadap pelatih, wasit, dan juri yang mumpuni juga meningkat. Ini adalah peluang emas sekaligus ladang pengabdian bagi SDM muaythai di daerah,” tegas Baso.

Keberhasilan ini tidak lepas dari torehan manis di ajang internasional. Pengprov mencatatkan sejarah dengan pengiriman delegasi pertama ke Kejuaraan Dunia Muaythai di Malaysia. Dari tujuh delegasi yang terdiri dari lima atlet dan dua pelatih, Jawa Timur berhasil membawa pulang medali bergengsi. Aldento Brilian Bara Pratama menyabet perak di nomor Wai Kru (seni ritual), Elija, atlet muda berusia 16 tahun, turut menyumbang perak, sementara Fausta Latifah asal Gresik mempersembahkan perunggu di kelas 48 kilogram. Sebelumnya, pada Kejuaraan Asia di Vietnam, Jawa Timur juga telah mengukir prestasi dengan raihan satu emas dan dua perak.

BACA JUGA  Jaga Estafet Tradisi Juara, Timnas Voli U-18 Indonesia Membidik Panggung Top 4 AVC 2026

“Prestasi ini adalah pelecut semangat bagi atlet-atlet daerah untuk terus berkembang,” pungkas Baso.

Lebih dari sekadar peningkatan kapasitas, penataran ini memiliki misi krusial: menyamakan persepsi mengenai regulasi terbaru dari International Federation of Muaythai Associations (IFMA) . Baso menekankan bahwa sinkronisasi aturan adalah fondasi utama untuk menciptakan pertandingan yang adil dan profesional, sekaligus meminimalisir potensi sengketa di arena. “Regulasi IFMA terus dinamis. Kita harus memiliki satu persepsi yang sama. Dengan begitu, pertandingan berlangsung profesional dan tidak menimbulkan perdebatan yang merugikan,” jelasnya.

Penataran ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang menyambut Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027 di Surabaya. Pengprov ingin memastikan seluruh perangkat pertandingan telah matang dan memahami regulasi terkini. Namun, langkah ini tidak berhenti di situ. Peserta terbaik dari penataran ini diproyeksikan untuk mengikuti Pelatihan Wasit dan Juri Tingkat Nasional di Bekasi pada 1–4 Agustus 2026, yang akan diikuti dengan penugasan langsung pada Kejuaraan Nasional Muaythai 4–9 Agustus 2026.

BACA JUGA  Menuju 2045, KONI Pusat Rancang 'Otak Strategis' Olahraga Nasional Lewat Sports Intelligence

“Kami akan seleksi peserta terbaik untuk dikirim ke pelatihan nasional. Harapan kami, mereka menjadi aset nasional dan mengharumkan nama Jawa Timur di tingkat Indonesia,” tandas Baso.

Sementara itu, atlet Pelatnas dan pemateri, Aldento Brilian Bara Pratama, memberikan materi yang difokuskan pada teknik dasar seni Muaythai. Ia menekankan pentingnya standarisasi teknik sejak dini agar seluruh pelatih memiliki metode pembinaan yang seragam sesuai standar internasional. “Kami memberikan materi dasar agar seluruh daerah memiliki persepsi yang sama. Saat Porprov nanti, semua sudah menggunakan satu aturan internasional,” ujar Aldento.

Ia memberikan pesan khusus kepada para pelatih untuk tidak pernah bosan mengulang teknik dasar. “Tips paling penting adalah terus mengulang gerakan. Atlet harus hafal dan paham teknik di luar kepala. Jika tidak, saat bertanding mereka akan kehilangan fokus dan performanya tidak maksimal,” pungkas atlet berprestasi tersebut.

Dengan langkah strategis ini, Muaythai Jawa Timur tidak hanya membidik prestasi di atas ring, tetapi juga membangun fondasi kejurnya dari sisi sumber daya manusia. Penataran ini menjadi titik awal terciptanya generasi pelatih dan wasit yang tak hanya ahli, tetapi juga berintegritas, siap membawa olahraga beladiri ini ke tingkat yang lebih tinggi di kancah nasional dan internasional.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.