JAKARTA-KEMPALAN: Selain Kementerian Agama yang melalui Zainut Tauhid Sa’adi, wakil menteri agama menyampaikan tentang tidak perlunya mempermasalahkan perbedaan tanggal awal bulan puasa, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga buka suara terkait masalah itu.
Melansir CNN Indonesia, MUI mengingatkan bahwa meskipun awal bulan puasa antara Muhammadiyah berbeda dengan Nahdlatul Ulama dan lainnya, tapi persatuan harus tetap dijaga.
Abdullah Jaidi, Ketua MUI menuturkan, jemaah Muhammadiyah akan mulai menjalankan puasa Ramadan pada besok, Sabtu (2/4). Sementara, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan tanggal 1 Ramadan jatuh pada Minggu (3/4).
“Tentunya sebagian dari Muhammadiyah akan memulai puasa esok hari tak kurangi arti kebersamaan kita. Kita boleh beda tapi kita harus jaga persatuan dan kesatuan kita. Terutama saat melakukan ibadah maha suci di Ramadan ini,” kata Abdullah dalam konferensi pers Sidang Isbat, Jumat (1/4).
MUI sendiri, menurut Detik, menetapkan 1 Ramadan jatuh pada hari Minggu (3/4) karena tidak dapat melihat rukyatul hilal. Pantauan ini telah dilakukan dari 34 provinsi di Indonesia, sehingga Muhammadiyah menjalankan Ramadhan lebih awal sehari ketimbang MUI.
“Kita boleh berbeda, tetapi kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan kita, terutama di saat kita melaksanakan ibadah yang Mahasuci, ibadah Ramadan yang penuh barakah, penuh rahmah ini,” tutur Zaidi. Ia juga mengimbau momentum Ramadhan untuk menghindari perselisihan. (CNN Indonesia/Detik, Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi