Mengkaji PKI Gak Berarti Menganut Komunisme, Baca Buku-buku Ini Biar Paham

waktu baca 4 menit
Foto para pendukung PKI. (Wikipedia)

Oleh Reza Maulana Hikam (Redaktur Kempalan)

KEMPALAN: Sesekali perbolehkan saya angkat tulisan di luar tema umum walaupun belum 30 September. Di kala orang-orang rame bahas minyak goreng dan Jokowi 3 periode serta penundaan pemilu, saya lebih suka bahas PKI. Isu yang tampaknya tak pernah usai digoreng sampai sekarang. Sedikit disclaimer terlebih dahulu, saya tidak menganut komunisme, hanya gemas dengan mereka yang memuja PKI begitupula yang menghina para pemuja PKI.

Pada sebuah perbincangan daring bersama John Sidel tertanggal 23 Agustus 2021. Kebetulan saya menjadi moderator, saya amati di bagian chat dari Zoom tersebut, ada seseorang yang menuding PKI itu pengkhianat dan berkhianat terhadap NKRI. Yasudahlah, itu pilihan PKI, dan sudah tertumpas, tapi buat apa kebencian macam itu dibawa terus hingga ke dalam diskusi yang tidak hanya membahas PKI?

Inilah anehnya orang Indonesia, terutama warganet yang terkadang tidak jelas identitas nyatanya, apakah mereka manusia asli, bot, atau akun buatan (biasanya dipakai para BuzzeRp), yakni gak nyambung kalau diajak bicara, yang dibahas apa jawabannya seperti apa. Bagi saya, kajian mengenai PKI itu sah-sah saja, tidak boleh ada intervensi yang sifatnya politis terhadap hak untuk mengkaji kelompok apapun, apakah teroris, PKI, GAM, RMS, OPM atau apapun.

Sekilas saya akan membeberkan sejumlah karya akademisi luar negeri yang mengulik tentang PKI.

Kebangkitan Komunisme di Indonesia (Ruth McVey) biasanya jadi buku babon mengulik munculnya ideologi komunisme di Indonesia, ada juga Cornell Paper yang membahas tentang G30S (kadang di bagian belakang ditambah PKI), lalu pembantaian terhadap PKI diulas juga oleh Geoffrey Robinson dalam karya terbarunya Musim Menjagal bersama karya lawasnya Sisi Gelap Pulau Dewata.

Ada juga karya John Roosa berjudul Dalih Pembunuhan Massal. Seorang akademisi Rusia sempat menuliskan sejumlah jurnal mengenai “teori” bahwa Soviet terlibat dalam Pemberontakan 1948 yang digawangi Musso, yang dikumpulkan menjadi buku Dari Moskow ke Madiun? Selain itu, Olle Tornquist yang mengajar di Universitas Oslo memberikan analisis kritisnya terhadap PKI dalam bukunya, Penghancuran PKI.

Indonesian Communism under Sukarno karya Rex Mortimer dan Komunisme ala Aidit tulisan Peter Edman juga masuk dalam daftar yang harus dibaca justru oleh mereka yang antikomunis, sehingga kalian paham “musuh” kalian, jangan alergi dulu hanya karena ada kata komunisme, Aidit, atau PKI sehingga menutupi kemampuan kalian untuk membaca.

Mungkin ada satu buku yang tidak pernah dirujuk oleh para pemuja PKI, yakni karya Antonie C. A. Dake, In the Spirit of the Red Banteng, karena buku ini memperlihatkan bagaimana PKI itu plin-plan, kadang ikut Moskow, tapi tidak masalah dengan Yugoslavia, sementara pada detik terakhir mendekat kepada Beijing. Bagi yang antikomunis, wajib baca buku ini karena penuh kritikan terhadap PKI.

Anak bangsa juga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *