KEMPALAN: Absurditas nalar terus dikacaukan pada hal-hal mustahil. Nalar dipaksa mempercayai, meski dengan konsekuensi harkat jadi rendah. Dan, itu lagi-lagi tentang Anies Baswedan.
Anies menjadi sosok yang bisa dirasionalkan pun diirasionalkan dengan kepentingannya masing-masing. Alam irasional pun ditamparkan pada Anies tanpa malu-malu, meski nalar sehat jadi terusik.
Adalah dukun di Medan yang memaksa publik memasuki alam irasional. Dan itu tentang hujan di sirkuit Mandalika saat perhelatan MotoGP yang tak mempan dilawan dengan pawang hujan kesohor, Rara Istiati Wulandari, konon langganan Presiden Jokowi.
Ki Bedul Sakti, nama dukun Medan itu, yang sepertinya nyambi sebagai buzzer. Katanya, bahwa hujan tak bisa dibendung oleh pawang Rara, itu bukan salah pawang yang gagal, tapi ada sosok yang hadir di sana. Disebutlah nama Anies Baswedan, yang datang bawa aura tidak baik. Tambahnya, itu sebab ia dekat ulama radikal semacam Habib Rizieq Shihab.
Semua dibuat menjadi gara-gara Anies. Sungguh penerawangan aneh dan pasti mengada-ada. Apa jika Anies tak hadir di sana hujan tak akan turun di tempat itu. Si pawang diyakini akan berhasil mengekspor hujan ke tempat lain. Tanpa sadar dan itu secara tersirat, Ki Bedul Sakti mau sampaikan bahwa Anies Baswedan itu hebat. Mampu menangkis kerja pawang hujan.
Tersuratnya memang ia menuduh Anies-lah penyebab turunnya hujan di sirkuit Mandalika. Rasionalitas pastilah menolak argumen asal ngomong Ki Bedul Sakti, yang sulit dibuktikan. Paling-paling ia katakan, itu berdasar penerawangannya.
Anies dibuat menjadi tidak ada baik-baiknya. Bahkan Ki Bedul Sakti pun ingin ambil manfaat pribadi, dan itu dengan memojokkan Anies Baswedan. Pastilah dengan cara irasional. Pikirnya, siapa tahu bisa dilirik dan diminta pendapat metafisik apa saja. Berharap bisa masuk dalam circle kekuasaan. Nasihatnya diminta, dan itu pastilah mendatangkan pundi-pundi uang tidak kecil.
Ki Bedul Sakti sepertinya mencoba peruntungan yang lebih strategis. Punya pasien yang tidak kelas recehan. Karenanya, yang bisa dijual dan dilakukan adalah menjelek-jelekkan Anies Baswedan. Memang sepertinya Anies bisa mendatangkan keuntungan tidak kecil bagi berbagai pihak, dan itu dengan menjelek-jelekkan namanya, bahkan sampai ke tingkat fitnah sekalipun.
Awan Pun Menyambut Anies
Pastilah dukun Ki Bedul Sakti mengada-ada. Bisa disebut sotoy. Seolah mampu melihat dari kejauhan. Dari Medan ia melihat lewat penerawangannya, bahwa ada awan mendung mengikuti langkah Anies menuju sirkuit Mandalika.
Aura Anies yang dilihatnya, itu yang menyebabkan turunnya hujan lebat di Mandalika.
Tambahnya, “Mbak Rara, pawang hujan di Mandalika itu bukan dukun sembarangan. Ia bisa berbicara dengan awan. Pengalamannya di atas rata-rata. Hanya bisa disejajarkan dengan saya.” He-he-he.
Ki Bedul Sakti pastilah tidak sakti, kecuali namanya dibuat lebih menjual. Agar tampak seolah “sakti”. Di alam modern ini praktik perdukunan irasional mestinya tidak perlu didekati. Tidak punya manfaat, kecuali dusta dan kerap menimbulkan fitnah. Di zaman rasional praktik model klenik ini, meski dibungkus kearifan lokal, sebaiknya dibuang saja tanpa meninggalkan bekas.
Omongan Ki Bedul Sakti itu pastilah meracau, bahwa awan hitam mengikuti Anies, itu semoga tidak disalah tafsir atau bahkan dipercaya para pengagumnya, seolah Anies itu sakti mandraguna. Anies seolah mampu menggerakkan awan, dan itu menurunkan hujan. Tersirat, Anies mampu mengalahkan pawang hujan kesohor. Hujan memang rahmat yang mesti disyukuri. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi