KEMPALAN: Anies Baswedan layaknya bukan kepala daerah. Jabatan yang disandangnya serasa lebih dari itu. Ia memang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai Oktober 2022. Meski demikian, suara yang menghendaki ia menjabat lebih dari sekadar sebagai Gubernur terus muncul menyeruak, tak mampu dibendung.
Anies tidak sekadar jadi idola baru, tapi lebih dari itu pengharapan hadirnya pemimpin negeri yang cakap dan tegas. Tidak dimainkan kelompok tertentu, disebabkan kekurangan yang dimiliki sebagai seorang pemimpin. Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies menunjukkan sikap digdaya penuh ketegasan tanpa pandang bulu. Kekuatan pemodal kuat, biasa orang menyebut dengan sembilan naga, dibuat tak berdaya, tak berkutik. Itu jika mencoba bermain-main dengan aturan sepatutnya. Menghentikan pembangunan 13 pulau reklamasi, itu cuma bisa dilakukan oleh pemimpin yang punya ketegasan menegakkan aturan.
Anies membuktikan itu, dan itu terang benderang. Maka, publik seantero negeri bisa melihat, dan yang muncul kalimat berandai bersahutan, andai saja ia bisa memimpin negeri ini. Menjadi Gubernur Indonesia yang sesungguhnya. Maka, ikhtiar menghadirkan Anies sebagai pemimpin negeri terus disuarakan di mana-mana. Berita deklarasi Anies Baswedan for President sepertinya tiap hari muncul dari satu kota/kabupaten, terus susul-menyusul. Pada tingkat provinsi pun seakan berlomba mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai pemimpin negeri. Berita deklarasi semacam itu sudah tidak diukur jadi berita menghebohkan. Seperti sudah rutin saja.
Deklarasi yang muncul di mana-mana setidaknya bentuk euforia harapan rakyat atas kemunculan pemimpin negeri. Pada Anies lah harapan itu disandarkan. Tidaklah mengherankan jika Anies terus dielukan sebagai pemimpin yang diidolakan, yang kehadirannya dirindu dan dinanti. Video “tipis-tipis” setengah sampai satu menitan lewat tiktok sering muncul, menggambarkan itu semua.
Terakhir kedatangan Anies di Balikpapan, Kalimantan Timur. Setibanya di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport, sambutan atasnya semarak. Berebut orang menjabat tangannya, dan meminta selfie. Anies melayaninya satu persatu. Tak ketinggalan kru bandara pun ikut larut berebut mengabadikan momen langkah bertemu idolanya. Muncul dua anak kecil bersaudara ingin juga berfoto bersamanya. Sambil menunduk, Anies merangkul dua anak itu. Anies bercakap-cakap dengan keduanya. Entah apa yang ditanyakan, tapi tentu hal yang anak itu mampu menjawabnya.
Momen yang dibangun Anies jumpa dengan masyarakat di mana pun itu indah dipandang. Tidak disetting–bagian dari pencitraan pemimpin tak cakap–tapi berjalan wajar-wajar saja.
Antusiasme penyambutan masyarakat di mana pun menjumpainya, dibalas Anies dengan humble. Sungguh indah dilihat. Tampak natural apa adanya. Bangunan komunikasi Anies, bukan seperti bangunan komunikasi yang dihadirkan lewat gaya pencitraan, itu memuakkan. Bahkan membunuh akal sehat. Model lempar-lempar kaos dikerumunan massa, atau bagi-bagi uang pada abang becak divideokan yang lalu diviralkan, itu komunikasi pencitraan usang yang diulang-ulang, meski dengan alur cerita lain.
Kemampuan Anies berkomunikasi dengan masyarakat pada strata sosial berbeda, tampak bisa dibangun dengan baik. Anies menjadi seperti tidak berjarak. Kekuatan komunikasi seorang Anies, itu bisa menukik ke atas dan menurun ke bawah. Artinya, pada masyarakat intelek kelas dunia sekalipun Anies mampu bercakap-cakap tidak saja baik, tapi juga berkelas. Begitupun dengan masyarakat kelas bawah atau kebanyakan, Anies pun mampu mendengarkan dengan baik, dan memberi solusi.
Kemampuan Anies berkomunikasi dengan baik pada semua lapisan masyarakat, itu dibangun oleh sikap bukan cuma pandai berbicara tapi juga pandai mendengar. Anies faham betul, bahwa komunikasi itu bukan sekadar berbicara, tapi juga tidak kalah penting adalah mendengar. Karenanya, yang muncul darinya adalah sikap optimistik mampu mengeksekusi semua persoalan yang ada.
Anies Baswedan sebagai kepala daerah mampu menjadi “bapak” yang baik pada anak-anaknya–dalam hal ini warga yang dipimpinnya–dan dengan itu ia membangun kotanya nyaris tidak memunculkan riak protes keberatan dari kelompok tertentu, karena merasa dirugikan. Semua merasa nyaman diperlakukan sama. Mendapat keadilan seharusnya. Itulah kekuatan komunikasi sebenarnya, yang tidak banyak dipunya pemimpin kebanyakan, yang andalan utamanya mencipta pencitraan diri saban waktu.
Karenanya, tanpa disetting macam-macam Anies tampak berbinar. Tidak perlu polesan mengada-ada. Tampil natural, dan itu terlihat jadi sempurna. Ungkapan “kebiasaan baik akan menghadirkan kebaikan”, itu yang sepertinya ada pada diri Anies. Itu bisa terlihat meski pada hal sederhana, yang dilakukan sehari-sehari. Yang terbaru, yang diviralkan entah oleh siapa, tapi pastinya oleh orang yang hadir pada peristiwa itu.
Saat 34 kepala daerah yang menginap di Balikpapan, mungkin sedang terlelap tidur karena kelelahan, atau sudah bangun tapi tidak terbiasa shubuhan di masjid. Tapi itu tidak dengan Anies, yang tetap hadir sholat shubuh di Masjid Balikpapan. Video yang dibuat tampak asal-asalan, bukan video yang biasa dibuat secara profesional, itu tetap mampu mengabadikan peristiwa itu dengan baik. Setidaknya mampu menggambarkan sebuah peristiwa yang muncul tidak instan, tapi memang sudah jadi kebiasaan. Pesan yang sampai, Anies hadir shubuhan di masjid… Wallahu a’lam. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi