Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 14:41 WIB
Surabaya
--°C

Soal Banjir Pamekasan: Pak Bupati, Jujurlah dalam Pikiran, Ucapan dan Perbuatan

Banjir Pamekasan
Taufiqur Rahman Putra Khafi

Oleh: Taufiqur Rahman Putra Khafi, Ketua Satria (Santri Madura Peduli Agraria)

KEMPALAN-Orang Pamekasan yang tinggal di wilayah kota sudah terbiasa dengan banjir. Tiap tahun, banjir selalu datang. Bahkan bisa dibilang, takdirnya orang kota harus merasakan banjir. Banjir datang tidak pilih-pilih siapapun pemimpinnya.

Apakah mereka marah dengan musibah tahunan itu? Tidak. Mereka sadar bahwa posisi tempat tinggalnya ada yang lebih rendah dari permukaan sungai. Secara logika, sulit dan mustahil menghindar dari banjir.

Apa yang bisa diperbuat pemerintah mengatasi banjir? Dalam kedaruratan, pemerintah bisa bersama-sama dengan kelompok kepentingan lainnya membantu masyarakat. Namun dalam urusan penanggulangan banjir, pemerintah butuh lebih serius lagi.

Tahun 2018, pemerintah Kabupaten Pamekasan mulai melakukan gebrakan pembangunan embung dan waduk dalam rangka kanalisasi aliran air agar tidak sepenuhnya lari ke kota. Upaya ini tidak cukup. Pemerintah kemudian mengundang ahli bagaimana menangani banjir di Pamekasan. Solusinya, hanya dengan pengerukan sungai yang sudah mengalami sedimentasi dan menggugah kesadaran warga agar tidak buang sampah sembarangan, terutama sampah plastik dan popok bekas.

Rencana besar itu ternyata butuh anggaran besar. APBD tak cukup membiayainya. Apalagi saat ini pademi dan visi pemerintah ingin beda dengan visi Pamekasan Berteman. Butuh intervensi pemrintah pusat dan pemerintah provinsi. Perlahan, beton-beton penahan sungai berjejer rapi di Kali Jombang dan Kali Kaloang. Namun pembangunan itu tak berjalan lagi dan program penanggulangan banjir jadi mandeg.

Walaupun mandeg, warga tidak protes meskipun banjir terus-terusan datang. Prediksi ahli, dunia saat ini sedang terjadi anomali cuaca yang bisa datang secara ekstrem kapanpun.

Di tengah kesabaran warga yang selalu terdampak banjir, setidaknya pemimpin jangan melukai perasaannya. Pemimpin harus jujur sejak dalam pikiran, ucapan dan tindakan.

Banjir katakan banjir, jangan bersilat lidah dengan kalimat luapan air sunga agar masyarakat tidak tersakiti hati nuraninya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.