Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: Pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia tentu tidak akan mencapai klimaksnya bila bangsa ini tak memiliki kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara.
Sumpah Pemuda 1928 adalah wujud kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara yang menghasilkan kesepakatan bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Kesadaran akan pentingnya merawat persatuan dan kesatuan ditengah suasana perbedaan dengan saling menghormati.
Kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat persatuan dan kesatuan ditengah adanya perbedaan dengan saling menghormati berlanjut saat menjelang proklamasi kemerdekaan, meski ada perbedaan cara pandang tentang kapan dilakukan proklamasi antara kelompok tua dan muda, kelompok muda tetap menghormati kelompok tua, Soekarno-Hatta.
Kondisi itu juga berlanjut saat terjadi peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, meski di ultimatum oleh tentara Inggris agar rakyat Surabaya menyerah, namun semangat bersatu yang dikumandangkan oleh Bung Tomo, mampu membangkitkan perlawanan terhadap penjajah.
Kesadaran kolektif berupa pentingnya persatuan dan kesatuan serta menghargai perbedaan adalah sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, Negara Indonesia yang terdiri 17.000 pulau dengan perbedaan bahasa dan suku tentu akan mudah dipecah belah, kalau di antara suku bangsa dan bahasa yang dipakai saling merasa benar dan merasa paling hebat maka persatuan Indonesia tak akan pernah bisa diwujudkan.
Menghadapi 1 abad kemerdekaan Indonesia 2045, Bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat, hilangnya kesadaran tentang persatuan dan kesatuan, sehingga bangsa ini kehilangan sikap menghargai, menghormati adanya perbedaan, adanya kelompok yang merasa paling benar dan paling Indonesia, lalu menuduh kelompok lain yang tidak sepaham sebagai kelompok intoleran, hukum tumpul ke kawan, tajam ke lawan padahal yang dianggap lawan itu hanya karena berbeda berpikir dalam mengelola negara, hilangnya kekayaan negara akibat perselingkuhan pejabat, penguasa dan kaum oligarki, rakyat mengalami kesulitan dalam hidup, pejabat menumpuk kekayaan dengan isu yang dibuat, rakyat seolah tidak hidup dinegeri yang merdeka, rakyat merasa hidup di negeri jajahan.
Lalu tidak adakah tokoh yang akan membawa bangsa ini keluar dari krisis hilangnya kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara? Jakarta menjadi saksi atas hadirnya tokoh dan pemimpin yang merawat kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara, mampu merawat keragaman dan menghargai kemerdekaan, pemimpin tegas dan berwibawa, lahir dari rahim rakyat, berpihak kepada rakyat, selalu hadir disaat rakyat membutuhkan, pemimpin yang anti terhadap penindasan serta mampu menghadirkan keadilan, bekerja dalam senyap tapi jelas dan terukur, dia adalah Anies Baswedan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi