Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 07:28 WIB
Surabaya
--°C

Imbas Kedelai Mahal, Pengrajin Tempe dan Tahu di Sidoarjo Mogok Massal

SIDOARJO-KEMPALAN: Pengrajin tempe dan tahu di Sidoarjo melakukan mogok massal produksi selama 3 hari ke depan mulai Senin, 21 Februari 2022. Hal ini dikarenakan kedelai impor sebagai bahan baku tempe dan tahu harganya mahal.

Sukari, Kepala Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (PRIMKOPTI) Karya Mulya, Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo mengatakan, saat ini harga kedelai impor mencapai Rp11.000-11.500/kg.

Harga tersebut terbilang mahal menurut para pengrajin tempe dan tahu yang tergabung dalam Primkopti. Untuk mendapatkan keuntungan dari berdagang tempe dan tahu, para pengrajin biasanya menggunakan kedelai dengan harga Rp. 10 ribu/kg.

“Kalau harga sudah Rp 11 ribu bahkan lebih, terpaksa harus mengurangi ukuran dan juga menaikan harga. Yang tadinya Rp 5 ribu kita hargai Rp 6 ribu per potong,” ucap Sukari, Senin (21/2).

BACA JUGA: Dunia “Berhenti Berputar” Tanpa Tahu-Tempe

Menurut informasi yang diperoleh Sukari, seluruh produsen tempe dan tahu di Sidoarjo melakukan mogok massal produksi selama tiga hari. Tindakan mogok massal ini bertujuan agar masyarakat tahu bahwa kedelai impor sebagai bahan baku tempe dan tahu harganya mahal.

“Yang kedua, agar pemerintah lebih memperhatikan perdagangan kedelai karena selama ini tata kelola perdagangan kedelai dilepas ke swasta murni. Jadi yang menentukan harga memang dari swasta dan perdagangan internasional,” tuturnya.

Masih menurut Sukari, ada 3 Primkopti di Sidoarjo yang masih aktif. Masing-masing mempunyai anggota berjumlah ratusan. Yakni di Kecamatan Jabon, Kecamatan Taman, dan kecamatan Candi. Ketiga Kopti tersebut membutuhkan 7 hingga 8 ton kedelai per hari.

BACA JUGA: Bangsa Tempe

“Semua melakukan mogok produksi selama 3 hari kedepan mulai hari ini, namun pengrajin tempe di luar Kopti saya nggak tahu,” jelas Sukari.

Sukari berharap untuk solusi jangka pendek pemerintah memberikan subsidi selama tiga sampai empat bulan ke depan. Namun untuk solusi jangka panjang, Sukari berharap agar pemerintah melakukan swasembada, meningkatkan kualitas dan produktivitas kedelai lokal.

“Agar ketergantungan akan kedelai impor menjadi berkurang. Karena kalau tidak impor itu sangat tidak mungkin,” pungkasnya. (Ambari Taufiq)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.