Tidak ada yang tahu. Teknologi berkembang cepat tidak terduga. Hukum Moore mengatakan bahwa kecepatan perkembangan mikroprosesor meningkat secara eksponensial setiap 24 bulan. Moore, salah seorang pendiri Intel, mengamati kemampuan mikroprosesor yang meningkat tajam setiap saat, sehingga memunculkan terobosan teknologi baru yang mencengangkan.
Sepuluh tahun yang lalu kita dengan bangga dan penuh gaya menenteng Blackberry dan melakukan chatting melalui Blackberry Messanger (BBM) dengan sahabat-sahabat kita. Harga Blackberry ketika itu mencapai belasan juta dan hanya dimiliki oleh kalangan terbatas.
Dua tahun kemudian ditemukan sistem Android yang memungkinkan untuk mengunduh aplikasi BBM melalui gawai murah buatan Tiongkok yang harganya ratusan ribu. Semua orang bisa mengakses BBM melalui gawai murah. Blackberry tidak bisa bertahan menghadapi gempuran Android. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, kita melihat Blackberry seperti barang produk seratus tahun yang lalu yang layak ditaruh di museum.
Perubahan dahsyat di dunia digital membuyarkan banyak tatanan sosial dan keagamaan. Pertanyaan santri mbeling mengenai nonton film porno memakai kacamata hitam itu juga menjadi pertanyaan yang diajukan oleh wartawan senior dan pengamat sosial Amerika Serikat, Thomas L. Friedman.
Dalam salah satu bab di buku ‘’Thank You For Being Late; An Optimist Guide to Thriving in the Age of Accelerations’’ (2018) Friedman mengajukan pertanyaan, ‘’Apakah Tuhan ada di dunia digital?’’. Pertanyaan ini bersifat hipotetikal. Tetapi, bagi Friedman pertanyaan ini sangat serius.
Ketika akselerasi teknologi melesat sangat cepat dan berkembang secara eksponensial, deret ukur, maka manusia akan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Di dunia digital yang serba ada dan serba bisa, apakah Tuhan masih ada.
Itulah sisi negatif dari perkembangan teknologi yang harus diantisipasi oleh para pemuka agama dan rohaniwan. Friedman seorang Yahudi yang saleh. Ia merasa terganggu oleh berbagai macam efek negatif dari dunia digital. Dari penelusuran mesin pencari di dunia digital, tiga kata yang paling sering dicari adalah ‘’sex’’ dan ‘’MP3’’. ‘’God’’ atau Tuhan, tidak masuk dalam kata yang paling dicari.
Karena itu kemajuan teknologi membawa berbagai macam tindakan kriminal yang merusak tatanan sosial. Karena itu Friedman berpendapat bahwa kita sendiri sebagai pengguna media sosial di jagat digital yang harus menghadirkan Tuhan di dunia digital. Friedman mengutip seorang rabi Yahudi yang mengatakan bahwa jika engkau membutuhkan kehadiran Tuhan maka Tuhan akan hadir. Sebaliknya, jika engkau tidak membutuhkan Tuhan maka Tuhan tidak akan hadir.
BACA JUGA: Lapor, Pak
Dalam konsep Islam, Allah ada di mana-mana, di dunia realitas maupun dunia virtual. Jika manusia mendekati Allah sejengkal, maka Allah akan mendekati manusia sehasta. Jika manusia mendekati Allah selangkah, Allah akan mendekatinya dua langkah.
Dalam konsep Islam akselerasi teknologi secepat apa pun masih akan kalah oleh akselerasi Allah yang selalu lebih cepat dua kali lipat. Kemajuan teknologi apa pun seharusnya bisa lebih mendekatkan manusia kepada Allah.
Inilah tantangan besar bagi para ulama dan pemikir Islam. Teknologi harus dihadapi, tidak dihindari. Para ulama Indonesia sudah mengharamkan mata uang kripto. Sekarang muncul tantangan baru.
Ketika teknologi digital bisa menciptakan Ka’bah Metaverse dan bisa menghadirkan semua sudut Makkah secara virtual, apakah ibadah haji bisa dilakukan secara virtual. Akankah di masa depan akan muncul Haji Metaverse? Wallahu a’lam. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi