Sebentar.
Izin mendengar sebentar pengumuman dari speaker masjid dekat rumah. Sudah seminggu puluhan warga sekitar komplek dan di dalam komplek perumahan kami terpapar virus. Pengeras suara tadi menyampaikan berita duka. Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. Itu salah satu yang bikin stres. Biarpun sudah mengurung diri di rumah.
Nasihat dari banyak teman, selama nyaman di masa pandemi, benar juga.
Segera cari hiburan. Dia menyebut media sosial dan rumpunnya menyediakan banyak saluran yang bisa bikin gerr.
Saya coba praktekkan, ternyata tokcer.
Dengan menyimak suara orsinil netizen, suara rakyat di media sosial.
Media sosial memang menjadi wilayah paling demokratis di Indonesia. Biarpun banyak yang ditangkap polisi maupun dihukum penjara karena menyalahgunakan medsos, tetapi tidak mengurangi semangat netizen berselancar di dunia maya. Bayangkan tercatat ada 200 juta orang terhubung di internet sekarang. Angka itu melebihi jumlah pemilih pada waktu Pemilu 2019.
Bagi yang punya jejak digital lihat medsos memang bisa sakit hati. Terus saja kesalahan mereka diungkit- ungkit. Terutama pejabat publik yang suka omong besar dan mencla mencle. Apalagi yang ketahuan cuma pencitraan. Jejak digitalnya tidak pernah terkubur. Semua jejak itu tersimpan sepanjang masa.
Mari coba kita uji.
Beberapa berita media mainstream diposting sekarang sering diposting penerbitnya sendiri di Facebook (FB) dan rumpun medsos lainnyya. Artinya beritanya bisa dibaca masyarakat gratis. Saya meniai ini upaya media pers beradaptasi dengan disrupsi digital. Strategi bagian marketing untuk memantau segmentasi pembaca dan respons publik terhadap jenis berita yang diminati.
Belakangan saya mengikuti “Tempo” “Republika” dan “Kompas”, serta beberapa lagi. Media memilihkan berita yang trending topic untuk diposting di FB. Saya mencatat beberapa tokoh yang selalu ramai mendapat komentar publik. Yaitu: Presiden Jokowi, Gubernur DKI Anies Baswedan, soal Ibu Kota Negara, soal Formula E, Kritik politisi PSI dan PDI-P, KSAD Jendral Dudung, Menteri Agama.
Beragam komentar netizen atas berita-berita itu yang mengundang senyum karena kritis dan lucu. Bisa bikin ketawa guling-guling mengikuti mereka yang bebas, dan dijamin itu tidak ada di media mainstream platform manapun.
Ambil contoh ketika media memposting berita “Jendral Dudung akan memimpin pemakaman korban KKB di Papua”.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi