Selasa, 21 April 2026, pukul : 21:31 WIB
Surabaya
--°C

Politik Lucu

Ternyata Anies punya sense of humor yang lumayan bagus. Banyak pejabat yang tidak punya sense of humor, atau, punya selera humor tapi rendah dan jelek. Di DPR selera humor yang buruk itu dipamerkan dengan main kuasa, misalnya meminta seorang pejabat untuk memecat bawahannya karena memakai bahasa daerah dalam rapat kerja dengan DPR.

Karena iklim politik yang kering humor, maka publik pun kehilangan selera humor dan timbul ketegangan dimana-mana. Narasi ‘’tempat jin buang anak’’ yang sebenarnya punya nuansa humor yang kental akhirnya dipersepsi sebagai ungkapan SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Ungkapan ‘’macan yang mengeong’’ yang sarkastis dan punya unsur humor, dianggap sebagai penghinaan.

Para pemimpin nasional Indonesia jarang ditampilkan sisi humorisnya. Hanya Gus Dur yang selalu tampil los dengan humor-humor segar. Sebenarnya banyak sisi humor yang manusiawi dari para presiden Indonesia. Tapi, tradisi budaya politik Indonesia, yang menganggap kekuasaan sebagai sakral, membuat para presiden tidak diekspos sisi kemanusiannya yang lucu.

Salah saru ciri kematangan sebuah bangsa adalah kemampuannya untuk menertawakan diri sendiri. Para komika muda itu mungkin akan muncul dengan ide melakukan roasting imajiner terhadap para presiden terdahulu.

Bung Karno bisa di-roasting karena, selain doyan me-reshuffle kabinet, juga suka me-reshuffle istri. Pak Harto bisa di-roasting karena punya julukan the smiling general, jenderal yang tersenyum, tapi ternyata suka menggebuk.

Presiden B.J Habibie tidak pernah melucu. Tapi menjadi lucu ketika gaya bicaranya ditirukan oleh Butet Kertaredjasa. Gaya bicara Habibie yang cadel tidak bisa menyebutan ‘’R’’ dengan sempurna, sehingga ‘’orde baru’’ terdengar sebagai ‘’orde bau’’.

Presiden Megawati tidak pernah melucu dan tidak pernah bicara. Bahkan Butet pun akan kesulitan menirukan Megawati. Mungkin anak-anak komika akan berdiri lima menit tanpa bicara di panggung untuk menirukan gaya ‘’silent president’’ ala Megawati.

Kalau para komika itu tampil dalam stand up comedy with President Gus Dur, pasti mereka kalah lucu. Bukannya me-roasting Gus Dur, para komika itu malah bakal banyak ‘’kulakan’’ materi humor politik dari Gus Dur. Khazanah humor politik Gus Dur sangat kolosal.

Presiden SBY yang selalu tampil formal dan berwibawa akan menjadi tantangan berat bagi para komika. Tentu saja para pembantu presiden tidak akan membiarkan SBY tampil di stand up comedy, karena akan meruntuhkan imej SBY sebagai presiden kstaria yang agung.

Jokowi dan Makruf Amien sudah sering menjadi sasaran kritik komika. Tapi, komika itu lantas menjadi bulan-bulanan buzzer. Komika Bintang Emon diserbu oleh buzzer karena sering mengritik kebijakan pemerintah. Jokowi beberapa kali mengatakan tidak anti-kritik, tapi buzzer tidak akan pernah membiarkan Jokowi menjadi sasaran kritik.

Apa ada komika yang berani me-roasting Jokowi? Komika Marshel Widianto punya cita-cita me-roasting Jokowi. Kabarnya Marshel punya tarif Rp 30 juta sekali tampil. Ia rela tidak dibayar asal bisa me-roasting Jokowi.

Tentu roasting-nya jangan kepanasan kalau tidak mau diserbu buzzer, atau dikenai pasal menghina simbol negara. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.