Senin, 15 Juni 2026, pukul : 04:54 WIB
Surabaya
--°C

The Next Gus Dur

Gus Dur membawa warna baru dalam hubungan NU dengan negara. Selama kekuasaan Orde Baru yang represif, NU menjadi kekuatan civil society yang melakukan koreksi dengan caranya yang khas. Di bawah Gus Dur, NU menjadi kekuatan yang disegani oleh negara.

Di era reformasi, NU terlibat langsung dengan politik praktis ketika Gus Dur terpilih menjadi presiden pada 1999. Masa kepemipinan Gus Dur hanya berlangsung tiga tahun dan berakhir dengan kekecewaan ketika Gus Dur menghadapi impeachment pada 2021.

Pada masa-masa berikutnya NU tidak terjun langsung ke dalam politik praktis, tetapi tetap mewarnai praktik politik nasional. Di bawah K.H Said Aqil Siradj NU kembali masuk ke kancah politik praktis dengan munculnya K.H Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi dalam pilpres 2019.

Sosiolog Prancis Andree Feillard melakukan studi yang sangat komprehensif untuk melihat hubungan NU dengan negara. Buku ‘’NU Vis a Vis Negara: Pencarian Isi, Bentuk, dan Makna di Tengah Prahara’’ (2009) menyajikan studi yang mendetail mengenai perkembangan-perkembangan awal NU.

BACA JUGA  Timnas Voli Putri Indonesia Gagal ke Semifinal Meski Hancurkan Lebanon 3-0

Feillard melihat  bahwa Islam di Indonesia memiliki perbedaan pendekatan di masing-masing daerah. Kontur perkembangan Islam di Nusantara sangat heterogen karena penerimaan terhadap Islam dilakukan dengan penyesuaian terhadap adat istiadat masyarakat yang beragam

NU muncul karena beberapa faktor, yaitu munculnya gerakan reformis dengan misi pembaruan hingga faktor politik runtuhnya kekhalifahan Islam Turki Usmani. Sistem pemerintahan berdasarkan syariah Islam dihapuskan dan digantikan dengan sekularisasi—pemisahan agama dari negara–yang berakibat pada lemahnya kontrol politik umat Islam di dunia.

Dari nsitu kemudian terjadi segmentasi gerakan Islam selama abad ke-20 antara kelompok-kelompok status quo yang masih merindukan model kekhalifahan Islam dengan kelompok baru yang modernis yang ingin mengubah pola hubungan Islam dengan politik. Kalangan tua kemudian disebut sebagai kelompok tradisionalis dan kalangan muda dikelompokkan sebagai modernis.

BACA JUGA  Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo Kompak Hijaukan Kota, Wujudkan Sidoarjo Asri di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Pemodelan berdasarkan tipologi modernis dan tradisionalis bukanlah identitas yang absolut. Tradisionalis dan modernis hanya cara pandang untuk melakukan identifikasi kedua golongan itu. Saat ini batas-batas keduanya menjadi kabur, kecuali cara pandang atas teks dan sikapnya atas materialitas kebudayaan.

Kaum reformis memiliki kecenderungan menerapkan praktik puritan dalam beragama, kalangan tradisionalis memiliki sikap akomodatif terhadap praktik-praktik kebudayaan—masyarakat setempat yang lekat dengan kronik mistisisme— menggunakan mendakatan Fiqih yang lebih elastis dan dinamis.

Antara realitas yang bergerak dinamis dengan hukum-hukum normatif agama tidak berjalan bertentangan,melainkan didialogkan menggunakan dalil-dalil fikih.  Pergumulan Islam dengan nilai budaya setempat menuntut adanya penyesuaian terus-menerus tanpa harus kehilangan ide aslinya sendiri.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.