Jumat, 26 Juni 2026, pukul : 18:59 WIB
Surabaya
--°C

Ibu, Bunga Peradaban dan Penentu Keberlangsungan Bangsa

Ibu adalah bunga peradaban karena peran pentingnya dalam menjaga ketahanan keluarga yang merupakan institusi terkecil sekaligus institusi pertama pencetak generasi.

Merujuk maqasid al-shari’ah, sedikitnya Ibu memiliki lima peran dalam menjaga ketahanan keluarga.

Pertama, peran akidah. Dalam ekonomi Islam, ini yang disebut hifz al-din, yaitu memelihara agama.

Ibu memiliki peran dalam membangun keimanan atau keyakinan dasar yang kokoh sehingga tidak ada keraguan yang mengiringinya terhadap Sang Pencipta dan dalam melaksanakan perintah-Nya.

Dalam Islam, akidah menjadi dasar dan penentu bagi kelangsungan kehidupan seseorang di masa depan. Ibu yang tingkat pemahaman agamanya baik, diharapkan dapat membimbing akidah anak-anaknya dengan baik.

Kedua, peran reproduksi. Dalam ekonomi Islam, ini yang disebut hifz al-nasl, yaitu memelihara keturunan.

Sebagaimana kodratnya, Ibu menjadi penopang utama dalam menjalankan fungsi reproduksi. Tidak hanya dalam menjaga kesehatan anak-anaknya sejak dalam bentuk janin, tetapi juga harus mempersiapkan rahimnya ketika menikah untuk melahirkan keturunan-keturunan yang sehat, kuat, dan berakhlak.

Ketiga, peran pendidikan. Dalam ekonomi Islam, ini yang disebut hifz al-‘aql, yaitu memelihara akal pikiran.

Jelas, Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu tidak sekedar menjadi guru pertama yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan, tetapi juga guru pertama dalam membangun karakter anak-anaknya agar mandiri, kreatif, bertanggung jawab, dan mampu berinteraksi dalam masyarakat.

Keempat, peran cinta kasih dan perlindungan. Dalam ekonomi Islam, ini yang disebut hifz al-nafs, yaitu memelihara jiwa.

BACA JUGA  Selama 40 Hari Indonesia Diserang – Ini Peta Lengkap Senjatanya

Ibu adalah teladan dalam mengajarkan cinta kasih dan memberi perlindungan kepada anak-anaknya. Tidak cukup kecerdasan akal pikiran dalam menjalani kehidupan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan juga harus menyertainya. Kepintaran juga harus diikuti dengan kelembutan hati untuk berbuat baik dan menebar manfaat bagi sesama.

Kelima, peran ekonomi. Dalam ekonomi Islam, ini yang disebut hifz al-mal, yaitu memelihara harta.

Ibu tidak hanya harus bahu-membahu dengan Ayah untuk menopang dan mengelola ekonomi keluarga serta menjaganya dari berbagai macam gangguan. Tetapi, Ibu juga harus menjadi mitra untuk memastikan harta yang mengalir pada keluarga berasal dari sumber yang halal dan dikelola dengan nilai-nilai tidak melanggar syariah.

Ibu, Penentu Keberlangsungan Bangsa

Dalam lingkup yang lebih luas, peran Ibu dalam menjaga ketahanan keluarga sebagai sumber utama membangun peradaban adalah cikal bakal peran Ibu dalam ruang publik.

Artinya, Ibu yang mampu menjaga ketahanan keluarga, maka memiliki peluang lebih besar untuk berkontribusi dalam menjaga harmoni sosial budaya kemasyarakatan. Pada tataran inilah, Ibu juga turut menjadi penentu keberlangsungan suatu bangsa.

Dari sebuah keluarga dengan Ibu yang mampu melaksanakan lima perannya, maka diharapkan dapat terlahir generasi yang dapat melindungi manusia lainnya (hifz al-insan), melindungi masyarakat (hifz al-mujtama’), dan melindungi negara (hifz al-daulat).

Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa: 9, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Maka, kita diingatkan untuk jangan sampai meninggalkan generasi penerus yang lemah akidah, lemah ilmu, lemah akal pikiran, lemah jiwa, dan lemah ekonomi.

BACA JUGA  Data Lonjakan Harta Zita Anjani sampai 1.000 Persen dalam 2 Tahun, Apa Yang Bisa Kita Curigai?

Dalam konteks keuangan publik Islam, sejatinya pesan dari ayat ini juga dapat kita maknai untuk para pemimpin hari ini untuk tidak meninggalkan generasi penerus yang akan memimpin bangsa di masa depan dalam keadaan lemah ekonomi.

Belajar dari sejarah, salah satu wujud lemah ekonomi adalah utang negara yang diwariskan dari sebuah generasi kepada generasi berikutnya menjadi ancaman bagi keberlangsungan suatu bangsa.

Untuk itu, tidak cukup ekonomi dan keuangan Islam hari ini menjawab soalan memobilisasi dana yang memenuhi prinsip syariah semata.

Yang tidak boleh dilupakan dan diabaikan, ekonomi dan keuangan syariah juga harus memikirkan bagaimana memutus mata rantai yang dapat menjadikan generasi masa depan bangsa ini menjadi lemah ekonomi.

Wallahua’lam bish showab.

 *Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana dan FEBI UIN Kiai Haji Achmad Siddiq; Wakil Koordinator Indonesia Bagian Tengah DPP IAEI; Sekretaris I DPW IAEI Jawa Timur.

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.