Oleh: Aby KH. IHYA’ Ulumuddin
KEMPALAN: Di antara doa Sayyidina Ibrahim a.s. adalah: “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) Di hari harta dan anak-anak laki kecuali orang–laki tidak berguna, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS As Syuara’:87-89).
Dan demi keselamatan hatimu maka renungkanlah isyarat ayat-ayat yang mulia berikut ini:
1. “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, “maasyaallaah, laa quwwata illa billaah…” (QS al Kahfi: 39).
Maksudnya, apa yang dikehendaki Allah Swt. semua pasti terwujud dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan pernah terwujud. Segala urusan adalah sesuai kehendak Allah, bukan selain-Nya.
Jadi ketika manusia diberikan oleh Allah derajat maka itu semata ia dapatkan agar menampakkan kerendahan diri di hadapan Allah Swt. Jika ia lalu merasa tinggi diri, angkuh, dan sombong disebabkan derajat itu maka hal yang mengantarkan dirinya pada derajat itu dianggap batal dan ia pun menjadi orang yang ditolak.
Oleh karena makna inilah, ketika Allah Swt. memberi perintah kepada Rasulullah saw. dengan firman-Nya: “Dan adapun dengan nikmat Tuhanmu maka ceritakanlah!”
Dan lalu Beliau saw. pun menuturkan keistimewaan-keistimewaan dan keutamaan-keutamaannya. Maka dalam setiap akhir masing-masing ucapkan, “Tiada kebanggaan sama sekali.” Maksudnya, aku tidak berbangga dengan derajat ini. Aku hanya berbangga diri dengan Allah Swt., Dzat pemberi lagi pemurah.
Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah penghulu anak Adam pada hari kiamat, tidak ada kebanggaan diriku dalam hal ini (hanya mensyukuri nikmat-Nya), di tanganku ada bendera Al Hamd, tidak ada kebanggaan diriku dalam hal ini (hanya mensyukuri nikmat-Nya), tidak ada nabi pada hari ini, Adam dan yang lain kecuali di bawah benderaku, aku orang pertama yang memberi syafaat dan orang pertama yang diterima syafaatnya.” (HR Majah/no: 6293 dalam Ahmad TurmudziIbnu al Jami’ as Shaghir).
Dan sungguh telah dikatakan: “Keistimewaan tidak menentukan keutamaan.”
2. “Kepada-Nya-lah naik perkataan yang baik dan amal yang saleh perkataan dinaikkan oleh-Nya.” (QS Fathir: 10).
Ayat yang mulia ini memberikan isyarat sesungguhnya termasuk tanda amal manusia itu naik (diterima) adalah bahwa amal itu tidak tersisa pada dirinya. Jika masih tersisa dalam pandangannya (masih merasa ia yang berjasa) maka amal itu ditahan dan ditolak. Jika sama sekali tidak tersisa padanya barulah amal itu diangkat dan diterima.
Allah Swt. berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam lurus.” (QS al Bayyinah: 5). Agama yang Ikhlas adalah memurnikan amal dari segala campuran; sedikit maupun banyak sehingga tidak ada yang mendorong pada amal itu selain tujuan berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Bila demikian halnya maka termasuk ikhlas adalah keselamatan hati dari ujub (bangga diri), riya’ dan sum’ah yang seluruh termasuk syirik khafi (syirik samar). Bangga diri adalah termasuk sifat Iblis sebagaimana firman Allah Swt: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’ (QS al A’raaf:12).
Oleh karena ini Nabi Muhammad saw. bersabda: “… tiga hal yang menghancurkan; kesenangan yang diumbar, kikir yang dituruti,” lalu Beliau menutup dengan sabdanya, ”dan ketika membanggakan dirinya.” (HR Baihaqi dalam Syuabul Iman no: 7252).
3. Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepad apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS al-A’raaf: 144).
Ayat ini memberikan isyarat bahwa sesungguhnya ketika manusia diberikan oleh Allah Swt. anugerah yang tiada henti maka Allah Swt. menyuruhnya agar bersyukur kepada-Nya karena sesungguhnya Dia Pemberi, bukan agar gembira dengan pemberian saja karena jika ia tidak memiliki hak atas pemberian itu maka tentu tidak terjadi sikap gembira.
Bahkan diwajibkan agar menunjukkan kegembiraan sebab kemurahan dan anugerah Allah Swt. lebih besar daripada kegembiraan sebab dirinya sendiri sebagaimana firman Allah Swt: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya–Katakanlah: hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58).
Dan jika manusia meyakini bahwa ia berhak atas pemberian oleh sebab dirinya sendiri maka inilah kebodohan yang nyata sesungguhnya malaikat mengatakan: Tidak ada ilmu apapun yang kami miliki kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami…” (QS Al-Baqarah: 32).
Allah Swt. berfirman: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya… “ (QS az-Zumar:67).
Dan juga sudah dipastikan dengan aqli bahwa sesungguhnya dalil tidak ada hak apapun bagi siapapun dari makhluk ini (menjadi hak kewajiban memberikannya) atas Allah al-Haqq Swt. Lalu bagaimana bisa muncul persangkaan memiliki hak? Inilah yang disebut ghurur (tertipu) yang terkadang manusia tidak merasa bahwa ia terjangkit penyakit hati ini sehingga kelak pada saat dihisab dikatakan kepadanya: “Kamu berbohong.” Dan dialah yang disebut orang yang tertipu. Semoga Allah Swt. melindungi kita.(*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi