Lewandowski menjadi favorit paling panas. Pada malam pesta itu Lewandowksi dan Messi duduk berdampingan. Saat-saat menegangkan muncul ketika nama pemenang hendak dibacakan. Lewandowski mencoba tenang meskipun terlihat gugup. Ketika kemudian nama Messi yang disebut, Lewandowski mencoba mempertahankan ketenangannya dengan tersenyum, bertepuk tangan, dan menyalami Messi disertai saling peluk.
Di atas panggung, sambil memegang piala berbentuk bola, Messi memberi apresiasi khusus kepada Lewandowski. Messi secara terbuka mengakui bahwa Lewandowski layak menjadi juara tahun ini. Messi mengatakan bahwa Ballon d’Or ini milik Lewandowski.
Sayangnya pidato Messi hanya pemanis bibir saja. Dia tetap memegang piala dan tidak menyerahkannya kepada Lewandowski. Messi tetap membiarkan Lewandowski terpaku di tempat duduknya dengan rasa tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.
Di lapangan sepakbola beberapa kali terjadi tindakan sportifitas dan respek yang tidak terduga dan mengundang kekaguman. Paulo Di Canio, bintang sepakbola Italia yang bermain di West Ham, menangkap bola di kotak penalti lawan untuk menghentikan permainan, karena ada pemain lawan yang cedera. Padahal ketika Di Canio tinggal berhadapan dengan kiper dan peluang mencetak gol sangat terbuka. Di Canio memilih menghentikan permainan demi sportifitas dan respek.
Beberapa kejadian menunjukkan pemain yang justru menolak diberi hadiah penalti oleh wasit karena merasa tidak berhak mendapatkannya. Sang pemain justru memprotes wasit dan minta hukuman penalti dibatalkan. Ini adalah contoh respek dan sportsmanship yang mengagumkan.
Pemandangan itu tidak terjadi pada malam pesta Ballon d’Or. Mungkin suatu ketika akan ada pemandangan sportsmanship dan respek seperti di lapangan bola. Mungkin akan ada seorang pemain yang menyerahkan piala kepada pesaingnya, karena ia merasa pesaingnya itu lebih pantas dan lebih berhak.
Tudingan skandal yang dilemparkan Bild tentu tidak main-main. Hal ini akan memengaruhi kredibilitas Majalah France Football yang menjadi tuan rumah dan inisiator penghargaan itu sejak 1958. Bild melihat ada kecurangan, ada faktor-faktor non-teknis yang membuat Lewandowski dikalahkan.
Bild, antara lain, mencurigai faktor tuan rumah yang membuat pemain di liga Prancis memperoleh keuntungan. “Atau ini keuntungan tuan rumah? Surat kabar Prancis, pesta gala dinner di Paris, pemenangnya megabintang klub Prancis,” sergah Bild.
Kalau benar tudingan Bild bahwa Ballon d’Or kali ini diliputi skandal maka hal ini akan menambah daftar panjang skandal sepakbola internasional. Selama ini berbagai skandal masih banyak mewarnai sepakbola internasional. FIFA sebagai badan tertinggi sepakbola dunia masih banyak menerima tudingan negatif karena berbagai skandal.
Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 sampai sekarang masih dicurigai karena diduga ada skandal jual beli suara dalam keputusan FIFA. Otoritas UEFA sebagai lembaga tertinggi sepakbola Eropa juga digoyang karena dianggap melakukan monopoli dan eksploitasi dalam menjalankan kompetisi. Karena itu klub-klub elite Eropa memberontak dan akan membuat kompetisi sendiri.
Kalau Ballon d’Or dianggap tidak objektif lagi, dan bahkan terbukti terjadi skandal, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi perlawanan dan pemberontakan yang memunculkan penghargaan tandingan. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi