KEMPALAN: Sebagai negara dengan iklim tropis Indonesia hanya punya dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan ditandai dengan curah hujan tang tinggi, dan musim kemarau ditandai dengan berkurangnya debit air yang sering menyebabkan kekeringan.
Negara-negara Eropa dan Amerika Utara mempunyai iklim sub-tropis dan mempunyai empat musim, yaitu musim dingin, musim gugur, musim semi, dan musim panas. Musim dingin ditandai dengan hujan salju dan suhu yang membeku di bawah nol, musim gugur menandai perpindahan musim beku ke musim yang lebih hangat dengan ditandai gugurnya dedaunan.
Setelah itu cuaca akan semakin hangat dan pepohonan mulai bersemi dan berbunga lagi. Setelah itu cuaca menjadi makin cerah dengan sinar matahari yang lebih banyak dan suhu udara yang makin panas. Bagi bangsa Eropa dan Amerika Utara musim panas menjadi musim liburan yang menyenangkan karena bisa menikmati matahari yang dianggap sebagai barang langka.
Negara empat musim dianggap lebih superior dibanding negara-negara dua musim seperti Indonesia dan negara-negara tropik lainnya. Tapi, untuk urusan musim, orang Indonesia lebih punya banyak dibanding dengan orang Eropa. Selain musim hujan dan kemarau, Indonesia punya musim durian, musim mangga, musim rambutan, musim nanas, musim papaya.
Bersamaan dengan musim hujan sekarang ada tambahan musim lagi yaitu musim kawin dan musim banjir. Musim banjir pun masih ada variannya lagi, selain banjir di Sintang ada juga banjir politik dalam bentuk banjir deklarasi. Meskipun pilpres masih tiga tahun lagi tapi para relawan sudah tidak sabar lagi ramai-ramai melakukan deklarasi calon presiden beramai-ramai.
Di media sosial setiap hari kita disuguhi banjir komentar mengenai apa saja. Banjir Sintang yang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu dan menenggelamkan puluhan ribu rumah, menjadi semakin ramai karena banjir komentar oleh para politisi.
Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon, dalam cuitannya menyindir Presiden Jokowi yang lebih memilih menjajal sirkuit Mandalika di NTB ketimbang mengunjungi koban banjir di Sintang, Kalimantan Barat. Fadli secara sarkastik memberi ucapan selamat kepada Jokowi yang menjajal sirkuit dengan mengendarai sepeda motor balap. Tapi, kemudian Fadli menohok dengan pertanyaan kapan mengunjungi Sintang.
Banjir di Indonesia bukan sekadar fenomena bencana alam, tetapi sudah menjadi fenomena politik. Setiap kali ada banjir, para aktor politik akan sibuk saling serang. Dalam kasus banjir Sintang pun demikian. Cuitan Fadli mendapat respons ramai dari banyak kalangan.
Ali Mochtar Ngabalin bereaksi balik dengan meminta Fadli lebih banyak membaca regulasi supaya paham mengenai penanganan banjir. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyerang balik dengan mempertanyakan sikap politik Fadli yang tidak sejalan dengan garis partainya. Partai Gerindra ada dalam barisan koalisi pendukung Jokowi, tapi Fadli Zon dianggap selalu berseberangan dengan kebijakan Jokowi.
Bencana banjir menjadi komoditi politik yang selalu didaur ulang. Di Jakarta, setiap tahun debat mengenai banjir selalu membanjir tidak ada habisnya. Saling serang dan saling hujat dengan argumen yang sama dari tahun ke tahun tidak pernah berubah.
Banjir Sintang juga menjadi komoditi politik untuk saling serang. Pemerintah daerah dianggap tidak siap menghadapi bencana, dan pemerintah pusat dianggap lamban dalam bereaksi. Dalam sebuah kesempatan, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji menjadi uring-uringan dan mengusir perwakilan pengusaha kelapa sawit yang dianggap tidak punya kepedulian terhadap korban banjir.
Menteri Sosial Tri Rismaharini sudah…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi