HANOI-KEMPALAN: Dalam COP26 yang merupakan perhelatan terbesar yang membahas perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia, Vietnam yang diwakili oleh Perdana Menteri Pham Minh Cinh bergabung bersama 109 negara lainnya untuk berkomitmen bersama untuk kurangi emisi gas Metana sebesar 30% pada tahun 2030.
Vietnam yang sudah berkomitmen kemudian harus berupaya untuk tidak lagi bergantung kepada Beras karena Beras menjadi kontributor kedua terbesar pada Gas Rumah Kaca setelah Daging.
Beras merupakan salah satu komoditas kunci ekspor bagi Vietnam, namun dengan adanya komitmen tersebut, kemudian Vietnam harus memikirkan kembali mengenai beras.
Produksi Beras utama di Vietnam berada di kawasan Delta Mekong yang kemudian mendapat julukan “Rice Bowl” (Terj: Mangkuk Nasi). Lebih dari 50% total Beras yang ada di Vietnam berasal dari sana dan 95% Beras ekspor tumbuh di sana.
Namun, persawahan di Mekong menghadapi permasalahan karena menjadi sumber emisi Gas Metana yang kemudian berkaitan dengan perubahan iklim yang ada.
Banjir, kenaikan tingkatan air laut dan intrusi garam di pesisir menjadi semakin sering terjadi di Vietnam karena berkaitan dengan perubahan iklim.
“Saya bisa melihat secara jelas efek dan dampak dari perubahan iklim yang ada ke ladang sawah padi kami. Air menjadi semakin asin, tanah kami menjadi semakin kering dan berkerak. Kehidupan di Delta Mekong menjadi semakin sulit dan hidup kami seperti mencari cahaya di ujung gua” ucap salah satu narasumber, melansir dari Aljazeera.
(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi