Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 13 Nov 2021 18:56 WIB ·

Salah Satu Sifat Buruk Manusia


					Ilustrasi: Generasi milenial diberi pendidikan agama untuk menghindari sifat buruk. Perbesar

Ilustrasi: Generasi milenial diberi pendidikan agama untuk menghindari sifat buruk.

Bu Nyai Dr. Hj. Mihmidaty Ya’cub

Oleh: Ibu Nyai Dr.Hj. Mihmidaty Ya’cub

KEMPALAN: Kondisi saat ini, manusia banyak ditimpa bencana, bahaya, musibah, dan pandemi covid19 (corona virus desember 2019) yang telah menyebabkan manusia di seluruh jagat raya ini dicekam rasa ketakutan, karena kematian beruntun  terjadi dimana-mana dan dalam waktu hampir bersamaan.

Di saat kondisi seperti inilah, manusia memohon kepada Allah SWT agar segera dibebaskan dari keadaan yang menakutkan itu. Tetapi di saat Allah mengganti kondisi itu dengan kenikmatan maka dengan mudahnya mereka beranggapan bahwa perubahan itu terjadi berkat kepintarannya, keuletannya, buah dari tirakat atau doa-doa yang dipanjatkannya, seakan tidak ada Allah yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa atas segalanya. Khalifah Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah bersyukur ketika mendapat nikmat. Namun terkadang ketika seseorang telah berada di atas angin, ia menjadi lalai. Hal semacam ini sudah Allah sebutkan dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar.

Dalam Al-Qur’an surah Az-zumar : 49-52 Allah berfirman yang artinya, “Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat Kami kepadanya dia berkata ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku. ’ Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengatakan hal yang itu, maka tidak berguna lagi bagi mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Lalu mereka ditimpa (bencana) dari yang akibat buruk apa  yang merka perbuat.

Dan orang-orang yang zalim diantara mereka juga akan ditimpa (bencana) dari akibat buruk apa yang mereka kerjakan dan mereka tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

Tak henti-hentinya Allah selalu mengingatkan manusia. Suka dan duka, pedih atau kenikmatan semuanya datangnya dari Allah SWT. Saat kita mendapatkan musibah, kesedihan, kesengsaraan, kita harus tetap terus berdoa dan berusaha agar Allah mengganti semua kedukaan itu dengan kenikmatan. Yang biasa terjadi setelah Allah menggantinya dengan kenikmatan mereka menjadi lalai, Allah dilupakan, Allah disingkirkan seakan apapun yang terjadi, itu terjadi karena kepintarannya, kekuasaannya, tirakatnya, puasanya dan lain sebagainya dan tidak ada campur tangan Allah SWT.

Mereka lupa bahwa Tauhid harus selalu ada dan dimasukkan dalam hati, karena kenikmatan itu sesungguhnya  juga merupakan ujian dari Allah. Biasanya manusia jarang yang lulus kalau diuji dengan kenikmatan dan kebahagiaan.

Ketika sudah mendapat kenikmatan dan kebahagiaan   lalu manusia enggan bersyukur, padahal bagi siapa yang bersyukur Allah akan menambah nikmatNya dan bagi yang tidak mau bersyukur, sesungguhnya azab Allah amatlah pedih. Ini memang bagian sifat buruk manusia seperti yang tersebut dalam firman Allah dalam Surah Al-‘Adiyat (100): 6 yang artinya “Sesungguhnya menusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” Puasa, tahajjud, dan doa itu semua cuma bentuk usaha atau ikhtiar, yang membolak balikkan hati manusia adalah Allah. Apapun yang kita upayakan haruslah mendapat ridhai dari Allah. Tanpa ridha Allah tidak akan ada gunanya apapun yang mereka usahakan, tidak ada pahala, tidak ada manfaatnya yang bisa menyelamatkan mereka dari api neraka.

Kenikmatan dan kebahagiaan yang dianggap terjadi karena kehebatan dan kemampuannya   sendiri, memang  tak jarang membuat manusia lalai dan membanggakan diri sendiri. Alih-alih berterimakasih kepada Allah dan menggunakan pemberian tersebut di jalan yang diridhai-Nya, mereka malah memanfaatkannya untuk memuaskan hawa nafsunya semata.

Inilah yang menyebabkan manusia masuk kategori yang disebut kufur nikmat. Apapun yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, berupa rezeki, prestasi dan kesehatan serta nikmat-nikmat Allah lainnya malah menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Semoga kita selalu dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT. Aamiin. (*)

Adib Muzammil

Transkrip Oleh: Adib Muzammil

Editor: Freddy Mutiara

 

Artikel ini telah dibaca 94 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

AFF 2020, dan Kelompok Pelangi yang Mewarnai

8 Desember 2021 - 15:13 WIB

Semeru Mbledos Risma Ngowos

8 Desember 2021 - 05:59 WIB

Jenderal Dudung, dan Tausiah Tak Bersandar

6 Desember 2021 - 11:20 WIB

Aksi 212 Dicegat, Rakyat Nekat | Sak Iki Haul Km 50..!

6 Desember 2021 - 06:31 WIB

Pikiran Positif Anies, dan Kekhawatiran Dahlan Iskan Tuai Kebenaran

5 Desember 2021 - 11:24 WIB

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Trending di kempalanalisis