Lech Walesa terus memimpin serangkaian pemogokan di seluruh negeri. Akhirnya rezim komunis menyerah dan bersedia mengadakan pemilihan umum terbuka pada 1989. Solidarisnoc yang ikut dalam pemilihan sebagai partai politik menang dengan suara besar, dan Lech Walesa menjadi presiden. Rezim komunis yang berkuasa puluhan tahun tumbang oleh gerakan buruh yang terorganisasi secara rapi.
Di Indonesia aksi buruh melalui demonstrasi sering dilakukan, meskipun hasilnya tidak optimal karena organisasi buruh masih terpecah-pecah. Gerakan pemogokan juga tidak menjadi senjata yang bisa diandalkan oleh gerakan buruh Indonesia karena kekuatan mereka yang banyak terfragmentasi.
Sejak era reformasi berbagai gerakan buruh Indonesia berhimpun dalam banyak partai politik, tapi semua gagal bertahan. Oktober lalu Said Iqbal, salah seorang tokoh gerakan buruh, mendeklarasikan berdirinya Partai Buruh Indonesia dan mengklaim mendapat dukungan dari banyak konfederasi buruh Indonesia. Masih harus dibuktikan apakah Partai Buruh bikinan Iqbal bisa memperoleh kursi pada pemilu 2024, atau hanya sekadar numpang lewat sebagaimana partai buruh lain di masa lalu.
HRS sudah tidak mempunyai organisasi lagi untuk menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi. Gerakan demonstrasi menjadi senjata HRS yang efektif ketika berhadapan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada pilgub DKI 2017. Setelah pemerintah membubarkan FPI (Front Pembela Islam) praktis HRS lumpuh.
Upaya untuk menghidupkan kembali FPI dengan baju baru belum menunjukkan hasil optimal. Kekuatan massa FPI yang dulu ditakuti sekarang masih belum bisa direkonstruksikan kembali. Karena itu HRS tidak punya banyak pilihan untuk melakukan perlawanan. Seruan boikot seolah menjadi pilihan terakhir yang tersedia bagi HRS.
Seruan boikot tanpa kekerasan bisa menjadi senjata politik yang efektif jika mendapat dukungan luas. Sebuah seruan moral tanpa kekerasan bisa menarik perhatian publik yang kecewa terhadap berbagai ketidakadilan di sekelilingnya. Ketika mendapat dukungan yang luas gerakan ‘’non-violence’’ ini bisa menjadi senjata perlawanan yang efektif.
Mahatma Gandhi di India telah membuktikan bahwa perlawanan tanpa kekerasan bisa menumbangkan kekuatan kolonial Inggris yang sangat eksploitatif dan represif. India berhasil lepas dari penjajahan Inggris berkat perjuangan tanpa kekerasan yang dimotori oleh Gandhi.
Empat gerakan tanpa kekerasan Gandhi menjadi inspirasi di seluruh dunia. Gandhi memperkenalkan gerakan Ahimsa, Hartal, Swadesi, dan Satyagraha. Ahimsa adalah gerakan protes dengan cara diam tanpa melakukan kekerasan. Dengan gerakan ini Gandhi menyerukan rakyat India untuk tidak mematuhi perintah penjajah Inggris tanpa harus melakukan kekerasan.
Hartal adalah gerakan pemogokan nasional. Setelah melakukan ahimsa dengan menolak membayar pajak, rakyat India melakukan hartal untuk melawan penjajah Inggris. Gerakan hartal dilakukan dengan mogok nasional dan berhenti melakukan aktivitas massal.
Gerakan swadesi adalah gerakan perlawanan dengan kampanye memakai produk buatan sendiri. Mahatma Gandhi memberi contoh gerakan swadesi dengan memintal kain sendiri dan memakai pakaian sangat sederhana dari pakaian yang dipintalnya sendiri.
Gerakan ini sangat efektif sebagai gerakan boikot terhadap produk-produk industrialisasi Inggris. Akibat gerakan swadesi ini Inggris mengalami kerugian besar karena produk-produknya secara tidak langsung diboikot di seluruh India.
Gandhi juga menyerukan gerakan satyagraha dengan melakukan protes nasional atas monopoli produk garam yang dilakukan pemerintah Inggris. Protes ini kelihatan kecil karena hanya menyangkut produk garam. Tetapi, bagi warga India garam adalah kebutuhan esensial, karena itu protes ini mendapat dukungan luas dari rakyat.
Semua gerakan itu dilakukan oleh Gandhi tanpa kekerasan. Pada akhirnya gerakan itu mendapat sambutan luas dari seluruh masyarakat India. Pemerintah Inggris semakin terdesak oleh gerakan Gandhi dan akhirnya menyerah dengan memberikan kemerdekaan pada 1947.
Seruan HRS untuk boikot adalah upaya terakhir untuk melakukan perlawanan sipil. Bisa saja orang meremehkan gerakan itu dan menganggapnya tidak akan efektif. Tetapi, sejarah dunia membuktikan bahwa kekuasaan represif sekuat apapun bisa tumbang oleh gerakan moral yang semula diremehkan. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi