Hidup begitu singkat dan berputar dengan cepat seperti drama Korea yang penuh air mata. Vanessa Angel tewas kecelakaan bersama suaminya di Jombang, Jawa Timur (4/11). Jenazah Vanessa dan suaminya dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim di Surabaya. Di Polda Jatim ini pulalah Vanessa menjadi viral karena kasus prostitusi online. Di tempat ini pula jenazah Vanessa diidentifikasi sebelum dikirim untuk dikebumikan di Jakarta.
Dunia hiburan di Indonesia—sebagaimana di belahan dunia—lainnya sudah mengalami transformasi karena munculnya teknologi digital yang melahirkan ‘’new media’’ media baru yang berbasis pada internet. Media massa televisi, radio, dan media cetak yang dulu menjadi tumpuan publikasi sekarang digeser oleh media sosial.
Para selebritas yang dulu berebut menjadi bintang televisi sekarang mendandani dirinya sendiri untuk tampil di kanal Youtube yang dikelolanya sendiri. Semakin banyak jumlah pelanggan akan semakin besar pundi-pundi uang yang diraup.
Tiap orang bisa menjadikan dirinya sebagai self-made celebrity, selebritas bikinan sendiri. Ada Instagram yang bisa memoles penampilan diri menjadi sejenis bidadari dari planet lain. Tanpa tahu dari mana asalnya seseorang tiba-tiba saja ditasbihkan sebagai selebriti Instagram atau selebgram.
Seseorang bisa juga cuat-cuit dengan kalimat yang diatur sesuai dengan algoritma, untuk mendapat pengikut yang besar di Twitter. Cuitan apa pun yang keluar akan diamini dianggap sebagai kebenaran oleh para followers yang setia.
Para pakar dan akademisi yang punya kompetensi dan ekspertis sekarang kalah oleh para influencer, pemengaruh, yang mempunyai jutaan pengikut di Twitter. Para profesor yang berpuluh tahun menempuh karir akademik yang rumit tidak akan didengar pendapatnya, sementara para pemengaruh yang tidak punya ekspertis apapun, didengar dengan penuh tawaduk oleh para pengikutnya yang fanatik.
Para pakar itu telah dinyatakan mati oleh Tom Nichols dalam ‘’The Death of Expertise’’ karena munculnya budaya digital. Para pakar yang mengajar di universitas dan sekolah semakin kehilangan pengikut karena sudah diambil alih oleh berbagai macam aplikasi.
Para kiai tradisional yang selama ini mengajar mengaji dengan sistem tradisional sorogan, kalah bersaing dengan para ustad youtuber yang punya santri puluhan juta, yang menyebar di seluruh dunia. Para ulama yang dulu menjadi tumpuan tempat umat bertanya, sekarang sudah tergeser oleh ‘’ulama Google’’ yang menjadi jujukan publik untuk bertanya mengenai masalah-masalah keagamaan dan berbagai jenis fatwa.
Para kiai dan ulama di pesantren tetap hidup prihatin dan sederhana, sementara para ustad youtuber bisa menjadi kaya raya dengan penghasilan mencapai nol 12 digit, miliaran rupiah, dari kebaikan hati ‘’pesantren Youtube’’.
Teknologi mempunyai hukum besinya sendiri. Teknologi yang semakin maju akan membawa perubahan sosial yang tidak ada preseden sebelumnya. Publik semakin menjadi religius karena ceramah-ceramah digital yang semakin mudah diakses. Di sisi lain, otoritas kiai dan ulama tradisional makin terkikis oleh perubahan teknologi itu.
Publik semakin religius, tapi bersamaan dengan itu akses untuk melakukan maksiat juga semakin terbuka. Nilai-nilai moral publik pun semakin longgar dan makin permisif. Sesuatu yang dulu dianggap tabu sekarang menjadi biasa. Seseorang yang melakukan pelanggaran sosial bisa diisolasi oleh warga. Sekarang para pelanggar susila malah menjadi selebritas yang dipuja.
Di kalangan masyarakat tradisional pelanggaran susila seperti zina akan dihukum dengan mengarak dua pelaku keliling kampung. Pelakunya akan diisolasi dan dikucilkan. Di dunia digital yang luas tanpa batas, pelaku asusila tidak bisa diisolasi secara digital. Alih-alih terisolasi, para pelakunya masih tetap bisa berkiprah secara bebas dan menjadi selebritas.
Dunia sudah berubah, nilai moral semakin longgar. Para ahli public relation mengatakan, ‘’all publicity is good publicity’’, publisitas apapun akan tetap menjadi publisitas yang baik. Negatif maupun positif, seseorang akan banyak dikenal karena publisitas.
Beda antara terkenal dan tercemar menjadi sangat tipis, dan masyarakat semakin tidak peduli. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi